WELLCOME TO RUTHKT'S BLOG : PLEASE LEAVE YOUR COMMENT,THANK YOU. HAVE A NICE DAY

Drinking party

Drinking party
3 months ago
IndoGlobal Adventure - Toraja, Sulawesi - Indonesia We organize Adventures : Trekking, Birding, Rafting, Diving, Sailing, Fishing and more...

Insurance

Financing

Rabu, 28 Januari 2009

Bagaimana Menjadi Murah dan Berkualitas (1)


by Inu Machfud R
Research & Consultant Head BMI Research Jakarta


Pepatah lama mengatakan: "ada harga ada rupa". Apabila mendengar pepatah maka pikiran kita akan merujuk kepada hubungan transaksi antara produsen dan konsumen, dimana untuk setiap barang atau jasa yang dibeli oleh konsumen pasti terdapat strata kualitas yang pembedanya biasanya ditentukan oleh harga.

Dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya kita telah mahfum dan menerima hal ini sebagai kondisi yang wajar, istilahnya sudah taken for granted, bahwa untuk setiap jasa atau produk yang lebih memuaskan atau lebih sophisticated pasti diperlukan biaya produksi yang lebih tinggi pula bila dibandingkan dengan jasa atau produk yang sifatnya biasa-biasa saja.

Namun dalam beberapa tahun belakangan anggapan ini tampaknya sudah mulai dapat dipatahkan. Apa pasal? tidak lain dan tidak bukan dalam 5 tahun terakhir ini konsumen kita dihadapkan pada sebuah fenomena besar: yaitu kendaraan murah (mobil dan sepeda motor). Fenomena tersebut seakan membalik kesadaran konsumen akan pakem "ada harga ada rupa". Bahwa produk yang murah pasti kualitasnya lebih rendah daripada produk yang lebih mahal.

Produk kendaraan atau otomotif menjadi fenomena karena sebelum era "murah", kendaraan merupakan salah satu ikon produk yang harus ditebus dengan harga yang cukup tinggi. Alih-alih untuk mendapatkan kualitas. Kondisi ini diperkuat pada era masuknya sepeda motor China pada awal tahun 2000, di mana harga produk yang murah harus diiringi dengan konsekuensi kekecewaan konsumen karena mutunya sangat buruk.

Namun lihatlah apa yang terjadi saat ini,� pabrikan sepeda motor Jepang menjawab 'tantangan' kebutuhan konsumen akan produk yang murah dan berkualitas dengan meluncurkan produk-produk sepeda motor 'paket hemat' yang pada tahun 2002-2003 dimulai dengan meluncurkan sepeda motor tipe bebek dengan harga antara Rp9 juta s/d Rp10 juta, dibandingkan dengan harga motor bebek yang full spec Rp12,5 juta. Kemudian pabrikan Suzuki meluncurkan tipe sport 125cc (Thunder 125) dengan harga setara sepeda motor bebek full spec. Dan pada tahun 2006-2007 pabrikan Yamaha meluncurkan sepeda motor tipe bebek dan sport yang lengkapi dengan teknologi terbaru dengan harga yang sangat kompetitif.

Fenomena serupa juga terjadi pada produk mobil. Fenomena terbesar yaitu pada saat Toyota dan Daihatsu meluncurkan produk kembar yang diproduksi di pabrik Daihatsu Indonesia: Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia. Produk tersebut pada awal kemunculannya di tahun 2004 dibanderol antara Rp75 juta s/d Rp95 juta (tergantung tipe dan spesifikasi). Cukup jauh berselisih harga dengan merek lain yang memang didesain khusus untuk mobil penumpang dan menawarkan sejumlah akomodasi kenyamanan kepada penumpangnya.

Dengan berjalannya waktu, terbukti pada produk-produk tersebut ternyata cukup reliable dan memuaskan para penggunanya. Salah satu indikatornya adalah harga jual kembali (resale value) dari kendaraan-kendaraan tersebut yang tetap terjaga. Pertanyaannya kemudian, apakah yang memungkinkan terjadinya fenomena ini? sebenarnya memang banyak faktor yang berpengaruh, seperti kebijakan-kebijakan yang berlaku dalam industri yang bersangkutan seperti tarif bea masuk, pajak dan lainnya. Namun satu hal yang krusial dan diterapkan secara konsisten oleh pabrikan-pabrikan Jepang, khususnya Toyota (yang saat ini juga memiliki saham mayoritas di pabrikan sepeda motor Yamaha) adalah efisiensi dalam operasional di pabrik-pabrik perakitan mereka, yang dikenal dengan konsep lean manufacturing.

Related Posts by Categories




by Inu Machfud R
Research & Consultant Head BMI Research Jakarta


Pepatah lama mengatakan: "ada harga ada rupa". Apabila mendengar pepatah maka pikiran kita akan merujuk kepada hubungan transaksi antara produsen dan konsumen, dimana untuk setiap barang atau jasa yang dibeli oleh konsumen pasti terdapat strata kualitas yang pembedanya biasanya ditentukan oleh harga.

Dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya kita telah mahfum dan menerima hal ini sebagai kondisi yang wajar, istilahnya sudah taken for granted, bahwa untuk setiap jasa atau produk yang lebih memuaskan atau lebih sophisticated pasti diperlukan biaya produksi yang lebih tinggi pula bila dibandingkan dengan jasa atau produk yang sifatnya biasa-biasa saja.

Namun dalam beberapa tahun belakangan anggapan ini tampaknya sudah mulai dapat dipatahkan. Apa pasal? tidak lain dan tidak bukan dalam 5 tahun terakhir ini konsumen kita dihadapkan pada sebuah fenomena besar: yaitu kendaraan murah (mobil dan sepeda motor). Fenomena tersebut seakan membalik kesadaran konsumen akan pakem "ada harga ada rupa". Bahwa produk yang murah pasti kualitasnya lebih rendah daripada produk yang lebih mahal.

Produk kendaraan atau otomotif menjadi fenomena karena sebelum era "murah", kendaraan merupakan salah satu ikon produk yang harus ditebus dengan harga yang cukup tinggi. Alih-alih untuk mendapatkan kualitas. Kondisi ini diperkuat pada era masuknya sepeda motor China pada awal tahun 2000, di mana harga produk yang murah harus diiringi dengan konsekuensi kekecewaan konsumen karena mutunya sangat buruk.

Namun lihatlah apa yang terjadi saat ini,� pabrikan sepeda motor Jepang menjawab 'tantangan' kebutuhan konsumen akan produk yang murah dan berkualitas dengan meluncurkan produk-produk sepeda motor 'paket hemat' yang pada tahun 2002-2003 dimulai dengan meluncurkan sepeda motor tipe bebek dengan harga antara Rp9 juta s/d Rp10 juta, dibandingkan dengan harga motor bebek yang full spec Rp12,5 juta. Kemudian pabrikan Suzuki meluncurkan tipe sport 125cc (Thunder 125) dengan harga setara sepeda motor bebek full spec. Dan pada tahun 2006-2007 pabrikan Yamaha meluncurkan sepeda motor tipe bebek dan sport yang lengkapi dengan teknologi terbaru dengan harga yang sangat kompetitif.

Fenomena serupa juga terjadi pada produk mobil. Fenomena terbesar yaitu pada saat Toyota dan Daihatsu meluncurkan produk kembar yang diproduksi di pabrik Daihatsu Indonesia: Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia. Produk tersebut pada awal kemunculannya di tahun 2004 dibanderol antara Rp75 juta s/d Rp95 juta (tergantung tipe dan spesifikasi). Cukup jauh berselisih harga dengan merek lain yang memang didesain khusus untuk mobil penumpang dan menawarkan sejumlah akomodasi kenyamanan kepada penumpangnya.

Dengan berjalannya waktu, terbukti pada produk-produk tersebut ternyata cukup reliable dan memuaskan para penggunanya. Salah satu indikatornya adalah harga jual kembali (resale value) dari kendaraan-kendaraan tersebut yang tetap terjaga. Pertanyaannya kemudian, apakah yang memungkinkan terjadinya fenomena ini? sebenarnya memang banyak faktor yang berpengaruh, seperti kebijakan-kebijakan yang berlaku dalam industri yang bersangkutan seperti tarif bea masuk, pajak dan lainnya. Namun satu hal yang krusial dan diterapkan secara konsisten oleh pabrikan-pabrikan Jepang, khususnya Toyota (yang saat ini juga memiliki saham mayoritas di pabrikan sepeda motor Yamaha) adalah efisiensi dalam operasional di pabrik-pabrik perakitan mereka, yang dikenal dengan konsep lean manufacturing.

0 comments: