WELLCOME TO RUTHKT'S BLOG : PLEASE LEAVE YOUR COMMENT,THANK YOU. HAVE A NICE DAY

Drinking party

Drinking party
3 months ago
IndoGlobal Adventure - Toraja, Sulawesi - Indonesia We organize Adventures : Trekking, Birding, Rafting, Diving, Sailing, Fishing and more...

Insurance

Financing

Rabu, 03 Desember 2008

Just Info


Buat yg belum tahu....ini ta copy dari kiriman komunitas lain...

Beberapa Hal Penting yang perlu kita waspadai dan dapat dilakukan sesuatu
untuk mengatasinya.
Mudah-mudahan berguna untuk Kita semua :

1. Nomor darurat.
Nomor darurat untuk telepon genggam adalah 112. Jika anda sedang di daerah
yang tidak menerima sinyal HP dan perlu memanggil pertolongan, silahkan
tekan 112, dan HP akan mencari network yang ada untuk menyambungkan
nomor darurat bagi anda, dan yang menarik,nomor 112 dapat ditekan
biarpun keypad dilock. Cobalah..

2. Kunci mobil ada ketinggalan di dalam mobil?
Anda memakai kunci remote?Kalau kunci anda ketinggalan dalam mobil dan
remote cadangannya di rumah, tinggal telpon orang rumah dengan HP, lalu
dekatkan HP andakurang lebih 30cmdari mobil, dan minta orang rumah
untuk menekan tombol pembuka pada remote cadangan yang ada dirumah
(waktu menekan tombol pembuka remote, minta orang rumah mendekatkan
remotenya ke telepon yang dipakainya)

3. Baterai cadangan tersembunyi
Kalau baterai anda hampir habis, padahal anda sedang menunggu telpon
penting, dan telpon anda dibuat olehNOKIA, silahkantekan *3370#, maka
telpon anda otomatis restart danbaterai akan bertambah 50%. Baterai
cadangan ini akan terisi waktu anda mencharge HP anda.

4. Tips untuk men-cek keabsahan mobil/motor anda(Jakarta area only)
Ketik :contoh metro b86301o (merah no polisi anda) Kirim ke 1717, nanti
akan ada balasan darikepolisian mengenai data2kendaraan anda, tips ini
juga berguna untukmengetahui data2 mobil bekasyang hendak anda
beli/incar.

5. Jika anda sedang terancam jiwanya karena dirampok/ditodong seseorang
untuk mengeluarkan uang dari atm
maka anda bisa minta pertolongan diam2 dengan memberikan nomor pin
secara terbalik,misal no asli pin anda 1254 input 4521 di atm maka
mesin akan mengeluarkan uang anda juga tanda bahaya ke kantor polisi
tanpa diketahui pencuri tsb. Fasilitas ini tersedia di seluruh atm tapi
hanya sedikit orang yang tahu tolong kasih tahu info kepada yang lain.

Read More......
Buat yg belum tahu....ini ta copy dari kiriman komunitas lain...

Beberapa Hal Penting yang perlu kita waspadai dan dapat dilakukan sesuatu
untuk mengatasinya.
Mudah-mudahan berguna untuk Kita semua :

1. Nomor darurat.
Nomor darurat untuk telepon genggam adalah 112. Jika anda sedang di daerah
yang tidak menerima sinyal HP dan perlu memanggil pertolongan, silahkan
tekan 112, dan HP akan mencari network yang ada untuk menyambungkan
nomor darurat bagi anda, dan yang menarik,nomor 112 dapat ditekan
biarpun keypad dilock. Cobalah..

2. Kunci mobil ada ketinggalan di dalam mobil?
Anda memakai kunci remote?Kalau kunci anda ketinggalan dalam mobil dan
remote cadangannya di rumah, tinggal telpon orang rumah dengan HP, lalu
dekatkan HP andakurang lebih 30cmdari mobil, dan minta orang rumah
untuk menekan tombol pembuka pada remote cadangan yang ada dirumah
(waktu menekan tombol pembuka remote, minta orang rumah mendekatkan
remotenya ke telepon yang dipakainya)

3. Baterai cadangan tersembunyi
Kalau baterai anda hampir habis, padahal anda sedang menunggu telpon
penting, dan telpon anda dibuat olehNOKIA, silahkantekan *3370#, maka
telpon anda otomatis restart danbaterai akan bertambah 50%. Baterai
cadangan ini akan terisi waktu anda mencharge HP anda.

4. Tips untuk men-cek keabsahan mobil/motor anda(Jakarta area only)
Ketik :contoh metro b86301o (merah no polisi anda) Kirim ke 1717, nanti
akan ada balasan darikepolisian mengenai data2kendaraan anda, tips ini
juga berguna untukmengetahui data2 mobil bekasyang hendak anda
beli/incar.

5. Jika anda sedang terancam jiwanya karena dirampok/ditodong seseorang
untuk mengeluarkan uang dari atm
maka anda bisa minta pertolongan diam2 dengan memberikan nomor pin
secara terbalik,misal no asli pin anda 1254 input 4521 di atm maka
mesin akan mengeluarkan uang anda juga tanda bahaya ke kantor polisi
tanpa diketahui pencuri tsb. Fasilitas ini tersedia di seluruh atm tapi
hanya sedikit orang yang tahu tolong kasih tahu info kepada yang lain.

Bahaya Signal HP


By: Capt.R.M Bambang Irawan

Buat Bapak/Ibu dan Rekan-Rekan yang sering bepergian dengan pesawat terbang,
semoga informasi di bawah ini dapat menambah pengetahuan kita tentang pentingnya
mematikan HP ketika berada dalam pesawat udara.

Just bear in mind, when you get on the airplane:
Switch your cell-phone off before it "switches" you off.... !!!
walaupun sudah sering kita dengar ato kita sudah tau, tapi jangan pernah anggap
remeh hal dibawah ini yah..

Saya sedih mendengar terbakarnya pesawat Garuda , GA 200 pada tanggal 7
Maret 2007, pukul 07.00 pagi, jurusan Jakarta-Yogyakarta di Bandara
Adisucipto. Kejadian itu sungguh menyayat hati dan perasaan.
Kemudian saya teringat beberapa bulan yang lalu terbang ke Batam dengan
menggunakan pesawat Garuda juga. Di dalam pesawat duduk disamping saya
seorang warga Jerman. Pada saat itu dia merasa sangat gusar dan terlihat
marah, karena tiba-tiba mendengar suara handphone tanda sms masuk dari salah
satu penumpang, dimana pada saat itu pesawat dalam posisi mau mendarat.
Orang ini terlihat ingin menegur tetapi tidak berdaya karena bukan
merupakan tugasnya. Langsung saya tanya kenapa tiba-tiba dia bersikap
seperti itu, kemudian dia bercerita bahwa dia adalah manager salah satu
perusahaan industri, dimana dia adalah supervisor khusus mesin turbin. Saat
dia melaksanakan tugasnya tiba-tiba mesin turbin mati, setelah diselidiki
ternyata ada salah satu petugas sedang menggunakan HP didalam ruangan mesin
turbin. Orang Jerman ini menjelaskan bahwa apabila frekwensi HP dengan mesin
turbin ini kebetulan sama dan sinergi ini akan berakibat mengganggu jalannya
turbin tersebut, lebih fatal lagi berakibat turbin bisa langsung mati.

Cerita ini langsung saya kaitkan dengan peristiwa di atas, kalau saya tidak
salah mendengar mesin pesawat tiba-tiba mati pada saat mau mendarat.
Mudah-mudahan peristiwa ini bukan akibat HP penumpang.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk masyarakat yang sering bepergian dengan pesawat. (KOMPAS)

Rakyat kita ini memang High class.. Handphone nya Mahal, Transportasi pake
pesawat. Tapi bodohnya gak ketulungan. Ada yang gk tau kenapa larangan itu
dibuat, ada yang tau tapi tetap gk peduli. Orang indonesia harus selalu
belajar dengan cara yang keras.

Buat yang belum tahu, kenapa tidak boleh menyalakan Handphone di pesawat,
berikut penjelasannya:

Sekedar untuk informasi saja, mungkin rekan-rekan semua sudah mendengar
berita mengenai kecelakaan pesawat yang baru "take-off" dari Lanud
Polonia-Medan. Sampai saat ini penyebab kejadian tersebut belum diketahui
dengan pasti.

Mungkin sekedar sharing saja buat kita semua yang memiliki dan menggunakan
ponsel/telpon genggam atau apapun istilahnya. Ternyata menurut sumber
informasi yang didapat dari ASRS (Aviation Safety Reporting System) bahwa
ponsel mempunyai kontributor yang besar terhadap keselamatan penerbangan.
Sudah banyak kasus kecelakaan pesawat terbang yang terjadi akibatkan oleh
ponsel.

Mungkin informasi dibawah ini dapat bermanfaat untuk kita semua, terlebih
yang sering menggunakan pesawat terbang.

Contoh kasusnya antara lain:

Pesawat Crossair dengan nomor penerbangan LX498 baru saja "take-off" dari
bandara Zurich, Swiss. Sebentar kemudian pesawat menukik jatuh. Sepuluh
penumpangnya tewas. Penyelidik menemukan bukti adanya gangguan sinyal ponsel
terhadap system kemudi pesawat.

Sebuah pesawat Slovenia Air dalam penerbangan menuju Sarajevo
melakukan pendaratan darurat karena sistem alarm di kokpit penerbang
terus meraung-raung. Ternyata, sebuah ponsel di dalam kopor di bagasi
lupa dimatikan, dan menyebabkan gangguan terhadap system navigasi.

Boeing 747 Qantas tiba-tiba miring ke satu sisi dan mendaki lagi setinggi
700 kaki justru ketika sedang "final approach" untuk "landing" di
bandara Heathrow, London.

Penyebabnya adalah karena tiga penumpang belum mematikan komputer, CD player, dan electronic game masing-masing (The Australian, 23-9-1998).

Seperti kita tahu di Indonesia? Begitu roda-roda pesawat menjejak landasan,
langsung saja terdengar bunyi beberapa ponsel yang baru saja diaktifkan.

Para "pelanggar hukum" itu seolah-olah tak mengerti, bahwa perbuatan mereka
dapat mencelakai penumpang lain, disamping merupakan gangguan (nuisance)
terhadap kenyamanan orang lain.

Dapat dimaklumi, mereka pada umumnya memang belum memahami tata krama
menggunakan ponsel,disamping juga belum mengerti bahaya yang dapat
ditimbulkan ponsel dan alat elektronik lainnya terhadap sistem navigasi dan
kemudi pesawat terbang. Untuk itulah ponsel harus dimatikan, tidak hanya
di-switch agar tidak berdering selama berada di dalam pesawat.

Berikut merupakan bentuk ganguan-gangguan yang terjadi di pesawat:
- Arah terbang melenceng,
- Indikator HSI (Horizontal Situation Indicator) terganggu,
- Gangguan penyebab VOR (VHF Omni-directional Receiver) tak terdengar,
- Gangguan sistem navigasi,
- Gangguan frekuensi komunikasi,
- Gangguan indikator bahan bakar,
- Gangguan sistem kemudi otomatis (auto-pilot)

Semua gangguan diatas diakibatkan oleh ponsel, sedangkan gangguan lainnya
seperti gangguan arah kompas komputer diakibatkan oleh CD & game.

Gangguan indikator CDI (Course Deviation Indicator) diakibatkan oleh gameboy
Semua informasi diatas adalah bersumber dari ASRS.

Dengan melihat daftar gangguan diatas kita bisa melihat bahwa bukan saja
ketika pesawat sedang terbang, tetapi ketika pesawat sedang bergerak di
landasan pun terjadi gangguan yang cukup besar akibat penggunaan ponsel.

Kebisingan pada headset para penerbang dan terputus-putusnya suara
mengakibatkan penerbang tak dapat menerima instruksi dari menara pengawas
dengan baik.

Untuk diketahui, ponsel tidak hanya mengirim dan menerima gelombang radio
melainkan juga meradiasikan tenaga listrik untuk menjangkau BTS (Base
Transceiver Station). Sebuah ponsel dapatmenjangkau BTS yang berjarak 35
kilometer. Artinya, pada ketinggian 30.000 kaki, sebuah ponsel bisa
menjangkau ratusan BTS yang berada dibawahnya. (Di Jakarta saja diperkirakan
ada sekitar 600 BTS yang semuanya dapat sekaligus terjangkau oleh sebuah
ponsel aktif di pesawat terbang yang sedang bergerak di atas Jakarta ).

Sebagai mahluk modern, sebaiknya kita ingat bahwa pelanggaran hukum adalah
juga pelanggaran etika. Tidakkah kita malu dianggap sebagai orang yang tidak
peduli akan keselamatan orang lain, melanggar hukum, dan sekaligus tidak
tahu tata krama?

Sekiranya bila kita naik pesawat, bersabarlah sebentar. Semua orang tahu
kita memiliki ponsel. Semua orang tahu kita sedang bergegas.
Semua orang tahu kita orang penting. Tetapi, demi keselamatan sesama, dan
demi sopan santun menghargai sesama, janganlah mengaktifkan ponsel selama di
dalam pesawat terbang.

Semoga suatu hari rakyat kita bisa sedikit lebih pintar.

"Well done is better than well said"




Read More......
By: Capt.R.M Bambang Irawan

Buat Bapak/Ibu dan Rekan-Rekan yang sering bepergian dengan pesawat terbang,
semoga informasi di bawah ini dapat menambah pengetahuan kita tentang pentingnya
mematikan HP ketika berada dalam pesawat udara.

Just bear in mind, when you get on the airplane:
Switch your cell-phone off before it "switches" you off.... !!!
walaupun sudah sering kita dengar ato kita sudah tau, tapi jangan pernah anggap
remeh hal dibawah ini yah..

Saya sedih mendengar terbakarnya pesawat Garuda , GA 200 pada tanggal 7
Maret 2007, pukul 07.00 pagi, jurusan Jakarta-Yogyakarta di Bandara
Adisucipto. Kejadian itu sungguh menyayat hati dan perasaan.
Kemudian saya teringat beberapa bulan yang lalu terbang ke Batam dengan
menggunakan pesawat Garuda juga. Di dalam pesawat duduk disamping saya
seorang warga Jerman. Pada saat itu dia merasa sangat gusar dan terlihat
marah, karena tiba-tiba mendengar suara handphone tanda sms masuk dari salah
satu penumpang, dimana pada saat itu pesawat dalam posisi mau mendarat.
Orang ini terlihat ingin menegur tetapi tidak berdaya karena bukan
merupakan tugasnya. Langsung saya tanya kenapa tiba-tiba dia bersikap
seperti itu, kemudian dia bercerita bahwa dia adalah manager salah satu
perusahaan industri, dimana dia adalah supervisor khusus mesin turbin. Saat
dia melaksanakan tugasnya tiba-tiba mesin turbin mati, setelah diselidiki
ternyata ada salah satu petugas sedang menggunakan HP didalam ruangan mesin
turbin. Orang Jerman ini menjelaskan bahwa apabila frekwensi HP dengan mesin
turbin ini kebetulan sama dan sinergi ini akan berakibat mengganggu jalannya
turbin tersebut, lebih fatal lagi berakibat turbin bisa langsung mati.

Cerita ini langsung saya kaitkan dengan peristiwa di atas, kalau saya tidak
salah mendengar mesin pesawat tiba-tiba mati pada saat mau mendarat.
Mudah-mudahan peristiwa ini bukan akibat HP penumpang.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk masyarakat yang sering bepergian dengan pesawat. (KOMPAS)

Rakyat kita ini memang High class.. Handphone nya Mahal, Transportasi pake
pesawat. Tapi bodohnya gak ketulungan. Ada yang gk tau kenapa larangan itu
dibuat, ada yang tau tapi tetap gk peduli. Orang indonesia harus selalu
belajar dengan cara yang keras.

Buat yang belum tahu, kenapa tidak boleh menyalakan Handphone di pesawat,
berikut penjelasannya:

Sekedar untuk informasi saja, mungkin rekan-rekan semua sudah mendengar
berita mengenai kecelakaan pesawat yang baru "take-off" dari Lanud
Polonia-Medan. Sampai saat ini penyebab kejadian tersebut belum diketahui
dengan pasti.

Mungkin sekedar sharing saja buat kita semua yang memiliki dan menggunakan
ponsel/telpon genggam atau apapun istilahnya. Ternyata menurut sumber
informasi yang didapat dari ASRS (Aviation Safety Reporting System) bahwa
ponsel mempunyai kontributor yang besar terhadap keselamatan penerbangan.
Sudah banyak kasus kecelakaan pesawat terbang yang terjadi akibatkan oleh
ponsel.

Mungkin informasi dibawah ini dapat bermanfaat untuk kita semua, terlebih
yang sering menggunakan pesawat terbang.

Contoh kasusnya antara lain:

Pesawat Crossair dengan nomor penerbangan LX498 baru saja "take-off" dari
bandara Zurich, Swiss. Sebentar kemudian pesawat menukik jatuh. Sepuluh
penumpangnya tewas. Penyelidik menemukan bukti adanya gangguan sinyal ponsel
terhadap system kemudi pesawat.

Sebuah pesawat Slovenia Air dalam penerbangan menuju Sarajevo
melakukan pendaratan darurat karena sistem alarm di kokpit penerbang
terus meraung-raung. Ternyata, sebuah ponsel di dalam kopor di bagasi
lupa dimatikan, dan menyebabkan gangguan terhadap system navigasi.

Boeing 747 Qantas tiba-tiba miring ke satu sisi dan mendaki lagi setinggi
700 kaki justru ketika sedang "final approach" untuk "landing" di
bandara Heathrow, London.

Penyebabnya adalah karena tiga penumpang belum mematikan komputer, CD player, dan electronic game masing-masing (The Australian, 23-9-1998).

Seperti kita tahu di Indonesia? Begitu roda-roda pesawat menjejak landasan,
langsung saja terdengar bunyi beberapa ponsel yang baru saja diaktifkan.

Para "pelanggar hukum" itu seolah-olah tak mengerti, bahwa perbuatan mereka
dapat mencelakai penumpang lain, disamping merupakan gangguan (nuisance)
terhadap kenyamanan orang lain.

Dapat dimaklumi, mereka pada umumnya memang belum memahami tata krama
menggunakan ponsel,disamping juga belum mengerti bahaya yang dapat
ditimbulkan ponsel dan alat elektronik lainnya terhadap sistem navigasi dan
kemudi pesawat terbang. Untuk itulah ponsel harus dimatikan, tidak hanya
di-switch agar tidak berdering selama berada di dalam pesawat.

Berikut merupakan bentuk ganguan-gangguan yang terjadi di pesawat:
- Arah terbang melenceng,
- Indikator HSI (Horizontal Situation Indicator) terganggu,
- Gangguan penyebab VOR (VHF Omni-directional Receiver) tak terdengar,
- Gangguan sistem navigasi,
- Gangguan frekuensi komunikasi,
- Gangguan indikator bahan bakar,
- Gangguan sistem kemudi otomatis (auto-pilot)

Semua gangguan diatas diakibatkan oleh ponsel, sedangkan gangguan lainnya
seperti gangguan arah kompas komputer diakibatkan oleh CD & game.

Gangguan indikator CDI (Course Deviation Indicator) diakibatkan oleh gameboy
Semua informasi diatas adalah bersumber dari ASRS.

Dengan melihat daftar gangguan diatas kita bisa melihat bahwa bukan saja
ketika pesawat sedang terbang, tetapi ketika pesawat sedang bergerak di
landasan pun terjadi gangguan yang cukup besar akibat penggunaan ponsel.

Kebisingan pada headset para penerbang dan terputus-putusnya suara
mengakibatkan penerbang tak dapat menerima instruksi dari menara pengawas
dengan baik.

Untuk diketahui, ponsel tidak hanya mengirim dan menerima gelombang radio
melainkan juga meradiasikan tenaga listrik untuk menjangkau BTS (Base
Transceiver Station). Sebuah ponsel dapatmenjangkau BTS yang berjarak 35
kilometer. Artinya, pada ketinggian 30.000 kaki, sebuah ponsel bisa
menjangkau ratusan BTS yang berada dibawahnya. (Di Jakarta saja diperkirakan
ada sekitar 600 BTS yang semuanya dapat sekaligus terjangkau oleh sebuah
ponsel aktif di pesawat terbang yang sedang bergerak di atas Jakarta ).

Sebagai mahluk modern, sebaiknya kita ingat bahwa pelanggaran hukum adalah
juga pelanggaran etika. Tidakkah kita malu dianggap sebagai orang yang tidak
peduli akan keselamatan orang lain, melanggar hukum, dan sekaligus tidak
tahu tata krama?

Sekiranya bila kita naik pesawat, bersabarlah sebentar. Semua orang tahu
kita memiliki ponsel. Semua orang tahu kita sedang bergegas.
Semua orang tahu kita orang penting. Tetapi, demi keselamatan sesama, dan
demi sopan santun menghargai sesama, janganlah mengaktifkan ponsel selama di
dalam pesawat terbang.

Semoga suatu hari rakyat kita bisa sedikit lebih pintar.

"Well done is better than well said"




KEKENTALAN DARAH DALAM TUBUH, MENGAPA TERJADI ???


by : Hamidah Pabeangi
Ada satu pertanyaan yang masuk ke mailbox saya, yaitu:
"Mengapa harus minum air putih banyak-banyak..???"

Sebenarnya jawabannya cukup "mengerikan" tetapi karena sebuah pertanyaan jujur harus dijawab dengan jujur.
Maka topik tersebut bisa dijelaskan sbb: Kira-kira 80% tubuh manusia terdiri dari air. Malah ada beberapa bagian tubuh kita yang memiliki kadar air di atas 80%.
Dua organ paling penting dengan kadar air di atas 80% adalah: Otak dan Darah...!!!
Otak memiliki komponen air sebanyak 90%.
Sementara darah memiliki Komponen air 95%.

Jatah minum manusia normal sedikitnya adalah 2 liter sehari atau 8 gelas sehari. Jumlah di atas harus ditambah bila anda seorang perokok. Air sebanyak itu diperlukan untuk mengganti cairan yang keluar dari tubuh kita lewat air seni, keringat, pernapasan, dan sekresi.
Apa yang terjadi bila kita mengkonsumsi kurang dari 2 liter sehari...?
Tentu tubuh akan menyeimbangkan diri. Caranya...? Dengan jalan "menyedot" air dari komponen tubuh sendiri. Dari otak...? Belum sampai segitunya (wihh...bayangkan otak kering gimana jadinya...) melainkan dari sumber terdekat: Darah..!!
Darah yang disedot airnya akan menjadi kental. Akibat pengentalan darah ini, maka perjalanannya akan kurang lancar ketimbang yang encer.
Saat melewati ginjal (tempat menyaring racun dari darah) Ginjal akan bekerja extra keras menyaring darah. Dan karena saringan dalam ginjal halus, tidak jarang darah yang kental bisa menyebabkan perobekan pada glomerulus ginjal.
Akibatnya, air seni anda berwarna kemerahan, tanda mulai bocornya saringan ginjal. Bila dibiarkan terus menerus, anda mungkin suatu saat harus menghabiskan 400.000 rupiah seminggu untuk cuci darah.

Eh, tadi saya sudah bicara tentang otak kan...? Nah saat darah kental mengalir lewat otak, perjalanannya agak terhambat. Otak tidak lagi "encer", dan karena sel-sel otak adalah yang paling boros mengkonsumsi makanan dan oksigen,
Lambatnya aliran darah ini bisa menyebabkan sel-sel otak cepat mati atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya..(ya wajarlah namanya juga kurang makan....)
Bila ini ditambah dengan penyakit jantung (yang juga kerjanya tambah berat bila darah mengental.....), maka serangan stroke bisa lebih lekas datang.

Sekarang tinggal anda pilih: melakukan "investasi" dengan minum sedikitnya 8 gelas sehari atau "membayar bunga" lewat sakit ginjal atau stroke.

Anda yang pilih...!!!




Read More......
by : Hamidah Pabeangi
Ada satu pertanyaan yang masuk ke mailbox saya, yaitu:
"Mengapa harus minum air putih banyak-banyak..???"

Sebenarnya jawabannya cukup "mengerikan" tetapi karena sebuah pertanyaan jujur harus dijawab dengan jujur.
Maka topik tersebut bisa dijelaskan sbb: Kira-kira 80% tubuh manusia terdiri dari air. Malah ada beberapa bagian tubuh kita yang memiliki kadar air di atas 80%.
Dua organ paling penting dengan kadar air di atas 80% adalah: Otak dan Darah...!!!
Otak memiliki komponen air sebanyak 90%.
Sementara darah memiliki Komponen air 95%.

Jatah minum manusia normal sedikitnya adalah 2 liter sehari atau 8 gelas sehari. Jumlah di atas harus ditambah bila anda seorang perokok. Air sebanyak itu diperlukan untuk mengganti cairan yang keluar dari tubuh kita lewat air seni, keringat, pernapasan, dan sekresi.
Apa yang terjadi bila kita mengkonsumsi kurang dari 2 liter sehari...?
Tentu tubuh akan menyeimbangkan diri. Caranya...? Dengan jalan "menyedot" air dari komponen tubuh sendiri. Dari otak...? Belum sampai segitunya (wihh...bayangkan otak kering gimana jadinya...) melainkan dari sumber terdekat: Darah..!!
Darah yang disedot airnya akan menjadi kental. Akibat pengentalan darah ini, maka perjalanannya akan kurang lancar ketimbang yang encer.
Saat melewati ginjal (tempat menyaring racun dari darah) Ginjal akan bekerja extra keras menyaring darah. Dan karena saringan dalam ginjal halus, tidak jarang darah yang kental bisa menyebabkan perobekan pada glomerulus ginjal.
Akibatnya, air seni anda berwarna kemerahan, tanda mulai bocornya saringan ginjal. Bila dibiarkan terus menerus, anda mungkin suatu saat harus menghabiskan 400.000 rupiah seminggu untuk cuci darah.

Eh, tadi saya sudah bicara tentang otak kan...? Nah saat darah kental mengalir lewat otak, perjalanannya agak terhambat. Otak tidak lagi "encer", dan karena sel-sel otak adalah yang paling boros mengkonsumsi makanan dan oksigen,
Lambatnya aliran darah ini bisa menyebabkan sel-sel otak cepat mati atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya..(ya wajarlah namanya juga kurang makan....)
Bila ini ditambah dengan penyakit jantung (yang juga kerjanya tambah berat bila darah mengental.....), maka serangan stroke bisa lebih lekas datang.

Sekarang tinggal anda pilih: melakukan "investasi" dengan minum sedikitnya 8 gelas sehari atau "membayar bunga" lewat sakit ginjal atau stroke.

Anda yang pilih...!!!




Makanan Sebagai Obat


Tahukah anda bahwa makanan anda bisa berperan sebagai obat bila mengkonsumsinya secara tepat :
• Mengurangi Peradangan dan Rasa Nyeri – konsumsi segera Jahe.
• Menderita Sakit Kepala? makanlah Ikan. Memakan sejumlah ikan, terutama minyak ikan mampu mencegah sakit kepala.
• Mencegah Stroke – minumlah Teh!. Teh mampu mencegah pembentukan timbunan lemak pada dinding jaringan arteri melalui konsumsi sejumlah dosis teh yang berkala. Sesungguhnya, teh menekan nafsu makan dan menjaga bertambahnya berat badan. Teh hijau bahkan amat baik bagi sistem kekebalan tubuh!.
• Mengalami Insomnia (Tidak Bisa Tidur?) – Madu obatnya. Gunakan selalu madu yang berfungsi sebagai obat penenang.
• Demam? minumlah Yogurt. Mengkonsumsi sejumlah yogurt sebelum musim panas atau kering. Juga selalu meminum madu lokal setiap hari.
• Menderita Asma? makanlah Bawang Merah. Memakan bawang merah menolong melegakan saluran pembuluh udara bronchial (ketika saya masih muda, ibu saya membuat kantung bawah merah yang diletakkan diatas bahu saya, menolong masalah pernafasan ini dan pada kenyataannya membuat kita bernafas lebih baik lagi.)
• Perut Mual? Pisang dan Jahe. Pisang akan menentramkan perut kembung anda.. Sedangkan jahe dapat menyembuhkan morning sickness dan rasa mual.
• Menderita Arthritis? makanlah Ikan. Ikan salmon, tuna, mackerel, sarden pada dasarnya mencegah arthritis. (Ikan memiliki minyak omega, baik untuk system kekebalan tubuh).
• Masalah Tulang? makanlah Apel. Tulang retak dan osteoporosis dapat dicegah oleh bahan mangan yang terdapat dalam Apel.
• Infeksi Kandung Kemih? minum jus strawberry atau kalo ada jus cranberry..Asam tinggi pada jus ini mengendalikan bakteri perusak pada tubuh.
• Sindrom Datang Bulan? makanlah Cornflake. Wanita dapat menghindari dampak datang bulan dengan cornflake, yang bisa mengurangi depresi, kegelisahan dan rasa kaku.
• Masalah Dalam Mengingat? makanlah Tiram atau Kerang!. Kerang menolong meningkatkan fungsi mental dengan mensuplai zinc (seng) yang diperlukan tubuh.
• Flu? makanlah Bawang Putih.. Ingatlah tugas bawang putih adalah menurunkan kolesterol.
• Menderita Batuk? Konsumsi Cabai Merah.. Bahan-bahan serupa yang ditemukan pada obat batuk ternyata ditemukan juga pada cabai merah. Gunakan cabai merah (cayenne) dengan hati-hati karena cabai dapat mengiritasi perut anda.
• Kanker Payudara? makanlah Gandum, Dedak dan Kol. Semua ini menolong kita mempertahankan estrogen pada level yang menyehatkan.
• Kanker Paru-paru? konsumsi Sayuran berwarna hijau tua dan oranye!. Obat penawar terbaik adalah beta carotene, satu bentuk dari vitamin A yang ditemukan pada sayuran berwarna hijau gelap dan oranye.
• Mengalami Diare? makanlah Apel. Parutlah apel dengan kulitnya, biarkan menjadi coklat dan makanlah untuk obat kondisi diare ini. (Pisang juga bagus untuk penyakit perut ini).
• Kena Bisul? Makan Kubis. Kubis serta Kol mengandung bahan kimia yang menolong menyehatkan baik untuk lambung perut dan juga bisul pada usus.
• Pembuluh Arteri Tersumbat? makanlah Alpukat. Lemak tidak jenuh tunggal yang terdapat pada alpukat mampu menurunkan kolesterol.
• Tekanan Darah Tinggi? makanlah Seledri dan Minyak Zaitun. Minyak zaitun telah menunjukkan diri mampu menurunkan tekanan darah. Sedang Seledri mengandung bahan kimia yang mampu menurunkan tekanan darah juga.
• Ketidakseimbangan Gula Darah? makanlah Brokoli dan Kacang. Bahan Chromium dalam brokoli dan kacang menolong mengatur insulin dan gula darah.
Buah-buah Perkasa
• Kiwi : kecil namun ajaib. Buah ini merupakan sumber potassium, magnesium, vitmin E dan serat. Kandungan vitamin C dua kali lebih banyak daripada jeruk.
• Apel : sebuah apel sehari membuat kita jauh dari dokter. Meskipun sebuah apel mengandung vitamin C yang rendah, namun apel adalah antioksidan flavonoid (pigmen tanaman) yang mempertinggi aktivitas vitamin C, dengan demikian menolong merendahkan resiko terkena kanker usus, serangan jantung dan stroke.
• Strawberry : merupakan buah pelindung. Strawberry memiliki total antioksidan tertinggi diantara banyak jenis buah dan melindungi tubuh dari penyebab kanker, membebaskan radikal yang bekerja dalam penyumbatan pembuluh darah. (Pada kenyataannya buah strawberry baik adalah baik bagi anda. Ada antioksidan tinggi dan buah ini membuat kita awet muda. Buah berry biru (blueberry) adalah buah terbaik dan amat punya kemampuan tnggi dalam dunia kesehatan. Buah ini mengenyahkan radikal bebas yang menginvasi tubuh kita.)
• Jeruk : obat paling manis. Ambil 2-4 jeruk seharinya, ini dapat menjauhkan dari flu, menurunkan kolesterol, mencegah dan melarutkan batu ginjal seperti halnya mengurangi resiko kanker usus.
• Melon : pelega haus paling dingin. Mengandung 92% air, juga dikemas bersama dosis besar dari glutathione yang mendorong system kekebalan tubuh. Melon juga sumber kunci dari lycopene antioksidan yang memerangi sel kanker. Nutrisi lainnya yang ditemukan dalam melon adalah vitamin C dan potassium. (Melon juga mengandung bahan alami SPF yang menjaga kesehatan kulit kita, melindungi kulit kita hantaman radiasi sinar matahari).
• Jambu Merah dan Pepaya : Penghargaan tertinggi didapat buah ini untuk vitamin C yang dikandungnya. Mereka nyata-nyata pemenang untuk kandungan vitamin C-nya. Jambu Merah juga kaya dengan serat yang menolong mencegah sembelit.
• Pepaya adalah kaya dengan karoten, dan baik untuk mata. (juga baik bagi pencernaan dan buang air)
• Tomat amat baik sebagai tindakan pencegahan bagi pria, menjaga masalah prostate mereka agar tidak mengganggu kesehatan tubuh.

Selamat Mencoba!!!



Read More......
Tahukah anda bahwa makanan anda bisa berperan sebagai obat bila mengkonsumsinya secara tepat :
• Mengurangi Peradangan dan Rasa Nyeri – konsumsi segera Jahe.
• Menderita Sakit Kepala? makanlah Ikan. Memakan sejumlah ikan, terutama minyak ikan mampu mencegah sakit kepala.
• Mencegah Stroke – minumlah Teh!. Teh mampu mencegah pembentukan timbunan lemak pada dinding jaringan arteri melalui konsumsi sejumlah dosis teh yang berkala. Sesungguhnya, teh menekan nafsu makan dan menjaga bertambahnya berat badan. Teh hijau bahkan amat baik bagi sistem kekebalan tubuh!.
• Mengalami Insomnia (Tidak Bisa Tidur?) – Madu obatnya. Gunakan selalu madu yang berfungsi sebagai obat penenang.
• Demam? minumlah Yogurt. Mengkonsumsi sejumlah yogurt sebelum musim panas atau kering. Juga selalu meminum madu lokal setiap hari.
• Menderita Asma? makanlah Bawang Merah. Memakan bawang merah menolong melegakan saluran pembuluh udara bronchial (ketika saya masih muda, ibu saya membuat kantung bawah merah yang diletakkan diatas bahu saya, menolong masalah pernafasan ini dan pada kenyataannya membuat kita bernafas lebih baik lagi.)
• Perut Mual? Pisang dan Jahe. Pisang akan menentramkan perut kembung anda.. Sedangkan jahe dapat menyembuhkan morning sickness dan rasa mual.
• Menderita Arthritis? makanlah Ikan. Ikan salmon, tuna, mackerel, sarden pada dasarnya mencegah arthritis. (Ikan memiliki minyak omega, baik untuk system kekebalan tubuh).
• Masalah Tulang? makanlah Apel. Tulang retak dan osteoporosis dapat dicegah oleh bahan mangan yang terdapat dalam Apel.
• Infeksi Kandung Kemih? minum jus strawberry atau kalo ada jus cranberry..Asam tinggi pada jus ini mengendalikan bakteri perusak pada tubuh.
• Sindrom Datang Bulan? makanlah Cornflake. Wanita dapat menghindari dampak datang bulan dengan cornflake, yang bisa mengurangi depresi, kegelisahan dan rasa kaku.
• Masalah Dalam Mengingat? makanlah Tiram atau Kerang!. Kerang menolong meningkatkan fungsi mental dengan mensuplai zinc (seng) yang diperlukan tubuh.
• Flu? makanlah Bawang Putih.. Ingatlah tugas bawang putih adalah menurunkan kolesterol.
• Menderita Batuk? Konsumsi Cabai Merah.. Bahan-bahan serupa yang ditemukan pada obat batuk ternyata ditemukan juga pada cabai merah. Gunakan cabai merah (cayenne) dengan hati-hati karena cabai dapat mengiritasi perut anda.
• Kanker Payudara? makanlah Gandum, Dedak dan Kol. Semua ini menolong kita mempertahankan estrogen pada level yang menyehatkan.
• Kanker Paru-paru? konsumsi Sayuran berwarna hijau tua dan oranye!. Obat penawar terbaik adalah beta carotene, satu bentuk dari vitamin A yang ditemukan pada sayuran berwarna hijau gelap dan oranye.
• Mengalami Diare? makanlah Apel. Parutlah apel dengan kulitnya, biarkan menjadi coklat dan makanlah untuk obat kondisi diare ini. (Pisang juga bagus untuk penyakit perut ini).
• Kena Bisul? Makan Kubis. Kubis serta Kol mengandung bahan kimia yang menolong menyehatkan baik untuk lambung perut dan juga bisul pada usus.
• Pembuluh Arteri Tersumbat? makanlah Alpukat. Lemak tidak jenuh tunggal yang terdapat pada alpukat mampu menurunkan kolesterol.
• Tekanan Darah Tinggi? makanlah Seledri dan Minyak Zaitun. Minyak zaitun telah menunjukkan diri mampu menurunkan tekanan darah. Sedang Seledri mengandung bahan kimia yang mampu menurunkan tekanan darah juga.
• Ketidakseimbangan Gula Darah? makanlah Brokoli dan Kacang. Bahan Chromium dalam brokoli dan kacang menolong mengatur insulin dan gula darah.
Buah-buah Perkasa
• Kiwi : kecil namun ajaib. Buah ini merupakan sumber potassium, magnesium, vitmin E dan serat. Kandungan vitamin C dua kali lebih banyak daripada jeruk.
• Apel : sebuah apel sehari membuat kita jauh dari dokter. Meskipun sebuah apel mengandung vitamin C yang rendah, namun apel adalah antioksidan flavonoid (pigmen tanaman) yang mempertinggi aktivitas vitamin C, dengan demikian menolong merendahkan resiko terkena kanker usus, serangan jantung dan stroke.
• Strawberry : merupakan buah pelindung. Strawberry memiliki total antioksidan tertinggi diantara banyak jenis buah dan melindungi tubuh dari penyebab kanker, membebaskan radikal yang bekerja dalam penyumbatan pembuluh darah. (Pada kenyataannya buah strawberry baik adalah baik bagi anda. Ada antioksidan tinggi dan buah ini membuat kita awet muda. Buah berry biru (blueberry) adalah buah terbaik dan amat punya kemampuan tnggi dalam dunia kesehatan. Buah ini mengenyahkan radikal bebas yang menginvasi tubuh kita.)
• Jeruk : obat paling manis. Ambil 2-4 jeruk seharinya, ini dapat menjauhkan dari flu, menurunkan kolesterol, mencegah dan melarutkan batu ginjal seperti halnya mengurangi resiko kanker usus.
• Melon : pelega haus paling dingin. Mengandung 92% air, juga dikemas bersama dosis besar dari glutathione yang mendorong system kekebalan tubuh. Melon juga sumber kunci dari lycopene antioksidan yang memerangi sel kanker. Nutrisi lainnya yang ditemukan dalam melon adalah vitamin C dan potassium. (Melon juga mengandung bahan alami SPF yang menjaga kesehatan kulit kita, melindungi kulit kita hantaman radiasi sinar matahari).
• Jambu Merah dan Pepaya : Penghargaan tertinggi didapat buah ini untuk vitamin C yang dikandungnya. Mereka nyata-nyata pemenang untuk kandungan vitamin C-nya. Jambu Merah juga kaya dengan serat yang menolong mencegah sembelit.
• Pepaya adalah kaya dengan karoten, dan baik untuk mata. (juga baik bagi pencernaan dan buang air)
• Tomat amat baik sebagai tindakan pencegahan bagi pria, menjaga masalah prostate mereka agar tidak mengganggu kesehatan tubuh.

Selamat Mencoba!!!



O PEK BOK NIE (OBAT PENYUMBATAN ATERI)


Oleh Leowardi
Tulisan ini saya sadurkan berdasarkan pengalaman saya yang baru saya alami 6 Bulan lalu, dan mungkin bermanfaat bagi teman-teman kita yang mengalami hal yang sama seperti saya dan dapat menyembuhkan dengan biaya yang sangat terjangkau.
Pada 6 bulan lalu saya memeriksakan diri pada seorang ahli jantung di RS Medistra, hal ini saya lakukan mengingat usia saya sudah mencapai 55 thn. Dimana banyak teman-teman selifting di SMP sudah pada menghadap ke Sang Pencipta dikarenakan penyakit yang sama saya alami, dan tragisnya mereka semuanya dipanggil rata-rata di kantor sedang berkarya.
Hasil pemeriksaan pada waku itu, Pemeriksaan Laboratorium Darah, semuanya merah, hanya beberapa yang masih hijau. Trigliserin, SGPT, SGOT, Asam Urat, Kolesterol, Tekanan Darah 180/120 semuanya merah.EKG kocar kacir sehingga saya dianjurkan untuk memeriksa Klep jantung dan tebal dinding jantung, ternyata baik dan dikirimlah saya ke Scanning jantung, hasilnya sangat mengejutkan dan saya di-vonnis pembuluh darah di jantung mampet sebanyak 70%, dan disarankan di kateter untuk dimasukan Ring / Stand sebanyak 3 bh, dimana per Ring / Stand seharga Rp. 30 juta belum termasuk ongkos kerja.
Alhasil akibat iseng untuk mengecek jantung, malah menjadi pikiran, mana anak masih kuliah, piaran anjing banyak dan seorang istri yang menurut saya sangat sayang sekali untuk ditinggalkan .... mulailah saya membongkar laci-laci mendiang Ibu yang tercinta ... ketemulah secarik kertas dengan tulisan kanji dengan rapi di map surat-surat penting, mulailah saya mencari orang yang dapat membacanya ... ternyata setelah diterjemah OBAT PENYUMBAT PEMBULUH DARAH JAMUR HITAM PUTIH.
Bahan-bahan resep O PEK BOK NIE :
Jamur hitam putih : 45 Gram
Ang Cho : 10 Biji
Irisan Jahe : 8 Iris (tebal 2mm)
Daging Babi/Sapi Fille : 60 Gram
Air : 8 Gelas
Bahan dicuci bersih dan di godok dengan api kecil (Lebih baik dengan slow cocker) dan mengunakan panci dari tanah liat (TIDAK BOLEH PAKAI PANCI LOGAM!!). Hingga tersisa 2 Gelas. Bahan-bahannya dibuang hanya diambil airnya.
Cara minum :
Pagi bagun tidur dalam keadaan perut kosong, minum 1 Gelas
Malam sebelum tidur minum 1 gelas lagi.
Jumlah hari :
Minum setiap hari selama 24 hari (24 Set)
Setelah minum selama 24 hari (24 Set), dapat diulang setiap 2 bulan sekali 12 set, untuk maintainance.
Setelah saya meminum 24 set saya ditelpone oleh Rumah Sakit bahwa saya sudah harus di kateter, dan jadwalnya telah disediakan, dengan hati yang sangat tidak karuan saya memeriksa ulang darah di Laboratorium RS di bilangan Kemayoran, sunguh mengagetkan hasilnya, dimana yang merah tinggal 2 dan itupun diatas sedikit dari ambang batas atas.
Setelah itu saya bertekat untuk menenangkan diri, dan pergilah saya kembali ke RS Medistra dan di kateter dari pergelangan tangan, dimasukan selang hingga ke jantung, kemudian disemprotkan sejenis cairan yang dapat merubah warna sehingga kita dapat melihat dimana yang tersumbat melalui monitor seperti TV. Tiba-tiba sang Professor berkata : Lho kok tidak ada yang mampet ya! .... Puji Tuhan, saya berkata dalam hati, ternyata berkat meminum resep O PEK BOK NIE kebuntuan di pembuluh darah saya berhasil lancar kembali, dan kepekatan darah saya juga teratasi.
Sekarang setiap 2 blan sekali saya mengecek jantung saya dengan hasi EKG normal, Kepekatan darah normal. Tekanan darah 120/90, Hasil pengecekan darah sudah kembali normal semuanya.
Dengan tulisan ini semoga dapat membantu teman-teman yang mengalami hal serupa, dan bagi yang sudah di Ring/Stand dapat juga meminumnya untuk menjaga.
Chinese Proverb:
"When someone shares something of value with you and you benefit from it, you have a moral obligation to share it with others".


Read More......
Oleh Leowardi
Tulisan ini saya sadurkan berdasarkan pengalaman saya yang baru saya alami 6 Bulan lalu, dan mungkin bermanfaat bagi teman-teman kita yang mengalami hal yang sama seperti saya dan dapat menyembuhkan dengan biaya yang sangat terjangkau.
Pada 6 bulan lalu saya memeriksakan diri pada seorang ahli jantung di RS Medistra, hal ini saya lakukan mengingat usia saya sudah mencapai 55 thn. Dimana banyak teman-teman selifting di SMP sudah pada menghadap ke Sang Pencipta dikarenakan penyakit yang sama saya alami, dan tragisnya mereka semuanya dipanggil rata-rata di kantor sedang berkarya.
Hasil pemeriksaan pada waku itu, Pemeriksaan Laboratorium Darah, semuanya merah, hanya beberapa yang masih hijau. Trigliserin, SGPT, SGOT, Asam Urat, Kolesterol, Tekanan Darah 180/120 semuanya merah.EKG kocar kacir sehingga saya dianjurkan untuk memeriksa Klep jantung dan tebal dinding jantung, ternyata baik dan dikirimlah saya ke Scanning jantung, hasilnya sangat mengejutkan dan saya di-vonnis pembuluh darah di jantung mampet sebanyak 70%, dan disarankan di kateter untuk dimasukan Ring / Stand sebanyak 3 bh, dimana per Ring / Stand seharga Rp. 30 juta belum termasuk ongkos kerja.
Alhasil akibat iseng untuk mengecek jantung, malah menjadi pikiran, mana anak masih kuliah, piaran anjing banyak dan seorang istri yang menurut saya sangat sayang sekali untuk ditinggalkan .... mulailah saya membongkar laci-laci mendiang Ibu yang tercinta ... ketemulah secarik kertas dengan tulisan kanji dengan rapi di map surat-surat penting, mulailah saya mencari orang yang dapat membacanya ... ternyata setelah diterjemah OBAT PENYUMBAT PEMBULUH DARAH JAMUR HITAM PUTIH.
Bahan-bahan resep O PEK BOK NIE :
Jamur hitam putih : 45 Gram
Ang Cho : 10 Biji
Irisan Jahe : 8 Iris (tebal 2mm)
Daging Babi/Sapi Fille : 60 Gram
Air : 8 Gelas
Bahan dicuci bersih dan di godok dengan api kecil (Lebih baik dengan slow cocker) dan mengunakan panci dari tanah liat (TIDAK BOLEH PAKAI PANCI LOGAM!!). Hingga tersisa 2 Gelas. Bahan-bahannya dibuang hanya diambil airnya.
Cara minum :
Pagi bagun tidur dalam keadaan perut kosong, minum 1 Gelas
Malam sebelum tidur minum 1 gelas lagi.
Jumlah hari :
Minum setiap hari selama 24 hari (24 Set)
Setelah minum selama 24 hari (24 Set), dapat diulang setiap 2 bulan sekali 12 set, untuk maintainance.
Setelah saya meminum 24 set saya ditelpone oleh Rumah Sakit bahwa saya sudah harus di kateter, dan jadwalnya telah disediakan, dengan hati yang sangat tidak karuan saya memeriksa ulang darah di Laboratorium RS di bilangan Kemayoran, sunguh mengagetkan hasilnya, dimana yang merah tinggal 2 dan itupun diatas sedikit dari ambang batas atas.
Setelah itu saya bertekat untuk menenangkan diri, dan pergilah saya kembali ke RS Medistra dan di kateter dari pergelangan tangan, dimasukan selang hingga ke jantung, kemudian disemprotkan sejenis cairan yang dapat merubah warna sehingga kita dapat melihat dimana yang tersumbat melalui monitor seperti TV. Tiba-tiba sang Professor berkata : Lho kok tidak ada yang mampet ya! .... Puji Tuhan, saya berkata dalam hati, ternyata berkat meminum resep O PEK BOK NIE kebuntuan di pembuluh darah saya berhasil lancar kembali, dan kepekatan darah saya juga teratasi.
Sekarang setiap 2 blan sekali saya mengecek jantung saya dengan hasi EKG normal, Kepekatan darah normal. Tekanan darah 120/90, Hasil pengecekan darah sudah kembali normal semuanya.
Dengan tulisan ini semoga dapat membantu teman-teman yang mengalami hal serupa, dan bagi yang sudah di Ring/Stand dapat juga meminumnya untuk menjaga.
Chinese Proverb:
"When someone shares something of value with you and you benefit from it, you have a moral obligation to share it with others".


KANTUNG EMPEDU – BATU GINJAL


Oleh Dr Lai Chiu-Nan
Indikasi awal kanker & tumor biasanya diawali dengan penuhnya kantung empedu dengan batu. Semua orang cenderung empedunya berisi batu, tetapi pada kondisi tertentu akan jadi penyakit,
Artikel paling bawah ini telah memberi saya jalan keluar, dimana 4 dokter memastikan saya harus dioperasi. Karena beberapa minggu lalu, saya terkena hepatitis A dan hasil USG ternyata empedu saya penuh dengan batu.
Penuhnya Empedu dengan batu tdk akan kita ketahui dlm keadaan normal, saya baru tahu setelah dokter melakukan USG Hati dan empedu.
Menurut Dokter: Operasi kantung empedu dgn mengangkat kantung empedu dengan operasi besar ataupun laparaskopi. Biaya yang akan kita keluarkan untuk operasi tsb berkisar antara 40-60 juta. (Untuk operasi saja)
Silahkan baca original artikel paling bawah dari Dr Lai Chiu-Nan, bagaimana mengeluarkan batu empedu tanpa operasi dan biaya sangat murah dan tidak merusak tubuh kita. Subhanallah saya telah mengikuti saran beliau dan alhamdulillah batu empedu ku keluar semua tanpa operasi. (Ini bukan detoxinasi, tapi seperti pembersihan perut). Hasil USG saya empedu telah penuh dengan batu, setelah melakukan treatment ini saya meminta USG kembali sebagai bukti. Ternyata benar...kantung empedu saya kosong... Entah bagaimana saya menyampaikan ucapan terimakasih ke Dr Lai Chiu-Nan, tapi saya cuma ingin sharing pengalaman sesuai niat Dr Lai Chiu-Nan membagi pengalaman kepada saudara2 kita dengan gratis.
Saran:
Bagi yang sehat...cobalah, karena saat kita sakit akut ataupun kronis gak enak rasanya. Ini adalah salah satu cara menghindari kanker dan tumor



Fungsi hati dan empedu: menetralisir racun di tubuh, Empedu menetralisir lemak yang kita asup ke dalam tubuh. Keduanya saling berkaitan... kalau kedua2nya bersih ...berarti kita telah menyehatkan tubuh kita agar normal fungsi keduanya
Sehat adalah milik kita semua..
Baik sekali apabila kita sekali-kali membersihkan kandung empedu kita.
============ ========= ========= ========= ===
MENGHILANGKAN BATU EMPEDU SECARA ALAMIAH
oleh Dr Lai Chiu-Nan
Ini telah berhasil bagi banyak orang. Apabila kejadian anda demikian juga, ayolah beritahu pada orang lain. Dr Chiu-Nan sendiri tak memungut biaya untuk informasinya ini, karena itu sebaiknya kita buat ini gratis juga.
Ganjarannya adalah bila ada orang yang karena informasi yang anda berikan menjadi sehat.
Batu empedu tak banyak dirisaukan orang, tapi sebenarnya semua perlu tahu karena kita hampir pasti mengindapnya. Apalagi karena batu empedu bisa berakhir dengan penyakit kanker. "Kanker sendiri tidak pernah muncul sebagai penyakit pertama" kata Dr Chiu-Nan.
"Umumnya ada penyakit lain yang mendahuluinya. Dalam penelitian di Tiongkok saya menemukan bacaan bahwa orang-orang yang terkena kanker biasanya ada banyak batu dalam tubuhnya.
Dalam kantung empedu hampir semua dari kita mengandung batu empedu.
Perbedaannya hanya dalam ukuran dan jumlah saja.. Gejala adanya batu empedu biasanya adalah perasaan penuh di perut ('nek, busung) sehabis makan. Rasanya kurang tuntas mencernakan makanan. Dalam kondisi parah ada tambahan rasa nyeri pada ginjal."
Bila anda menduga ada batu pada empedu anda, cobalah cara yang dianjurkan oleh Dr Chiu Nan untuk menghilangkannya secara alamiah. Pengobatan ini juga dapat dipakai bila ada keluhan gangguan hati, karena hati dan kandung empedu saling berkaitan.
Tata-cara pengobatannya adalah sebagai berikut:
1. Selama lima hari berturut-turut minumlah empat (4) gelas sari buah apel segar setiap hari, atau makanlah empat atau lima buah apel segar tergantung selera anda. Apel berkhasiat melembutkan batu empedu. Selama masa ini anda boleh makan seperti biasa.
2. Pada hari ke-enam jangan makan malam. Jam 6 petang, telanlah satu sendok teh "Epsom salt" (magnesium sulfat, garam Inggris??) dengan segelas air hangat. Jam 8 malam lakukan hal yang sama. Magnesium sulfat berkhasiat membuka pembuluh-pembuluh kandung empedu. Jam 10 malam campurkan setengah cangkir minyak zaitun (atau minyak wijen) dengan setengah cangkir sari jeruk segar. Aduklah secukupnya sebelum diminum. Minyaknya melumasi batu2 untuk melancarkan keluarnyabatu empedu.
Keesokan hari Anda akan menemukan batu-batu berwarna kehijauan dalam limbah air besar anda. "Batu-batu ini biasanya mengambang," menurut Dr Chiu-Nan.
"Cobalah hitung jumlahnya. Ada yang jumlahnya 40, 50 sampai 100 batu.
Banyak sekali. Tanpa gejala apapun Anda mungkin memiliki ratusan batu yang berhasil dikeluarkan melalui metoda ini, walaupun mungkin tidak semuanya keluar.






Baik sekali apabila kita sekali-kali membersihkan kandung empedu kita.

1. Jenis Apel sebenarnya sama, cuma saya seneng yang manis... Kemaren aku makan Apel RRC yang sering diskon kalau di supermarket harga diskon per 100 gram 800-1000 (biasaya 1600).
2. Minum/makan apel selama 1 hari 4 (rata2) lima juga boleh.
3. Sebelumnya aku minum Jus asli apel. Cuma butuh waktu untuk mebuatnya. Akhirnya selama 5 hari aku makan apel seger dari kulkas, kulitnya aku buang. Karena apel sekarang banyak yang dikasih lapisan lilin dan terkontaminasi sama pestisida... jadi aku buang kulitya, lalu aku potong kecil..dan dimasukkan ke kulkas...jadi saat kita mau makan, apelnya masih seger dan dingin.
4. Garam Inggris beli di apotik harga Rp2.500 (Tempat obat)
5. Minyak Zaitun kalau kita ke Supermarket namanya Olive Oil, harga 25-30 ribu satu botol. Di Apotek juga ada, aku beli di sana karena dekat rumah.
Guna Jeruk agar kita tidak muntah saat minum Minyak Zaitun, Jadi aduk yang rata...karena sebelumnya adukanku tidak rata...sehingga eneg, ..lalu aduk lagi biar tercampur dengan rata..karena minyak dan jeruk tidak bersatu atau Berat Jenisnya beda...
Dokter suruh aku Operasi... tapi dengan treatment ini, keluar batunya.



Read More......
Oleh Dr Lai Chiu-Nan
Indikasi awal kanker & tumor biasanya diawali dengan penuhnya kantung empedu dengan batu. Semua orang cenderung empedunya berisi batu, tetapi pada kondisi tertentu akan jadi penyakit,
Artikel paling bawah ini telah memberi saya jalan keluar, dimana 4 dokter memastikan saya harus dioperasi. Karena beberapa minggu lalu, saya terkena hepatitis A dan hasil USG ternyata empedu saya penuh dengan batu.
Penuhnya Empedu dengan batu tdk akan kita ketahui dlm keadaan normal, saya baru tahu setelah dokter melakukan USG Hati dan empedu.
Menurut Dokter: Operasi kantung empedu dgn mengangkat kantung empedu dengan operasi besar ataupun laparaskopi. Biaya yang akan kita keluarkan untuk operasi tsb berkisar antara 40-60 juta. (Untuk operasi saja)
Silahkan baca original artikel paling bawah dari Dr Lai Chiu-Nan, bagaimana mengeluarkan batu empedu tanpa operasi dan biaya sangat murah dan tidak merusak tubuh kita. Subhanallah saya telah mengikuti saran beliau dan alhamdulillah batu empedu ku keluar semua tanpa operasi. (Ini bukan detoxinasi, tapi seperti pembersihan perut). Hasil USG saya empedu telah penuh dengan batu, setelah melakukan treatment ini saya meminta USG kembali sebagai bukti. Ternyata benar...kantung empedu saya kosong... Entah bagaimana saya menyampaikan ucapan terimakasih ke Dr Lai Chiu-Nan, tapi saya cuma ingin sharing pengalaman sesuai niat Dr Lai Chiu-Nan membagi pengalaman kepada saudara2 kita dengan gratis.
Saran:
Bagi yang sehat...cobalah, karena saat kita sakit akut ataupun kronis gak enak rasanya. Ini adalah salah satu cara menghindari kanker dan tumor



Fungsi hati dan empedu: menetralisir racun di tubuh, Empedu menetralisir lemak yang kita asup ke dalam tubuh. Keduanya saling berkaitan... kalau kedua2nya bersih ...berarti kita telah menyehatkan tubuh kita agar normal fungsi keduanya
Sehat adalah milik kita semua..
Baik sekali apabila kita sekali-kali membersihkan kandung empedu kita.
============ ========= ========= ========= ===
MENGHILANGKAN BATU EMPEDU SECARA ALAMIAH
oleh Dr Lai Chiu-Nan
Ini telah berhasil bagi banyak orang. Apabila kejadian anda demikian juga, ayolah beritahu pada orang lain. Dr Chiu-Nan sendiri tak memungut biaya untuk informasinya ini, karena itu sebaiknya kita buat ini gratis juga.
Ganjarannya adalah bila ada orang yang karena informasi yang anda berikan menjadi sehat.
Batu empedu tak banyak dirisaukan orang, tapi sebenarnya semua perlu tahu karena kita hampir pasti mengindapnya. Apalagi karena batu empedu bisa berakhir dengan penyakit kanker. "Kanker sendiri tidak pernah muncul sebagai penyakit pertama" kata Dr Chiu-Nan.
"Umumnya ada penyakit lain yang mendahuluinya. Dalam penelitian di Tiongkok saya menemukan bacaan bahwa orang-orang yang terkena kanker biasanya ada banyak batu dalam tubuhnya.
Dalam kantung empedu hampir semua dari kita mengandung batu empedu.
Perbedaannya hanya dalam ukuran dan jumlah saja.. Gejala adanya batu empedu biasanya adalah perasaan penuh di perut ('nek, busung) sehabis makan. Rasanya kurang tuntas mencernakan makanan. Dalam kondisi parah ada tambahan rasa nyeri pada ginjal."
Bila anda menduga ada batu pada empedu anda, cobalah cara yang dianjurkan oleh Dr Chiu Nan untuk menghilangkannya secara alamiah. Pengobatan ini juga dapat dipakai bila ada keluhan gangguan hati, karena hati dan kandung empedu saling berkaitan.
Tata-cara pengobatannya adalah sebagai berikut:
1. Selama lima hari berturut-turut minumlah empat (4) gelas sari buah apel segar setiap hari, atau makanlah empat atau lima buah apel segar tergantung selera anda. Apel berkhasiat melembutkan batu empedu. Selama masa ini anda boleh makan seperti biasa.
2. Pada hari ke-enam jangan makan malam. Jam 6 petang, telanlah satu sendok teh "Epsom salt" (magnesium sulfat, garam Inggris??) dengan segelas air hangat. Jam 8 malam lakukan hal yang sama. Magnesium sulfat berkhasiat membuka pembuluh-pembuluh kandung empedu. Jam 10 malam campurkan setengah cangkir minyak zaitun (atau minyak wijen) dengan setengah cangkir sari jeruk segar. Aduklah secukupnya sebelum diminum. Minyaknya melumasi batu2 untuk melancarkan keluarnyabatu empedu.
Keesokan hari Anda akan menemukan batu-batu berwarna kehijauan dalam limbah air besar anda. "Batu-batu ini biasanya mengambang," menurut Dr Chiu-Nan.
"Cobalah hitung jumlahnya. Ada yang jumlahnya 40, 50 sampai 100 batu.
Banyak sekali. Tanpa gejala apapun Anda mungkin memiliki ratusan batu yang berhasil dikeluarkan melalui metoda ini, walaupun mungkin tidak semuanya keluar.






Baik sekali apabila kita sekali-kali membersihkan kandung empedu kita.

1. Jenis Apel sebenarnya sama, cuma saya seneng yang manis... Kemaren aku makan Apel RRC yang sering diskon kalau di supermarket harga diskon per 100 gram 800-1000 (biasaya 1600).
2. Minum/makan apel selama 1 hari 4 (rata2) lima juga boleh.
3. Sebelumnya aku minum Jus asli apel. Cuma butuh waktu untuk mebuatnya. Akhirnya selama 5 hari aku makan apel seger dari kulkas, kulitnya aku buang. Karena apel sekarang banyak yang dikasih lapisan lilin dan terkontaminasi sama pestisida... jadi aku buang kulitya, lalu aku potong kecil..dan dimasukkan ke kulkas...jadi saat kita mau makan, apelnya masih seger dan dingin.
4. Garam Inggris beli di apotik harga Rp2.500 (Tempat obat)
5. Minyak Zaitun kalau kita ke Supermarket namanya Olive Oil, harga 25-30 ribu satu botol. Di Apotek juga ada, aku beli di sana karena dekat rumah.
Guna Jeruk agar kita tidak muntah saat minum Minyak Zaitun, Jadi aduk yang rata...karena sebelumnya adukanku tidak rata...sehingga eneg, ..lalu aduk lagi biar tercampur dengan rata..karena minyak dan jeruk tidak bersatu atau Berat Jenisnya beda...
Dokter suruh aku Operasi... tapi dengan treatment ini, keluar batunya.



Minggu, 30 November 2008

Commercialization Toraja


From Wikipedia, the free encyclopedia
Before the 1970s, Toraja was almost unknown to Western tourism. In 1971, about 50 Europeans visited Tana Toraja. In 1972, at least 400 visitors attended the funeral ritual of Puang of Sangalla, the highest-ranking nobleman in Tana Toraja and the last pure-blooded Toraja noble. The event was documented by National Geographic and broadcast in several European countries.[7] In 1976, about 12,000 tourists visited the regency and in 1981, Torajan sculpture was exhibited in major North American museums.[32] "The land of the heavenly kings of Tana Toraja", as written in the exhibition brochure, embraced the outside world.

In 1984, the Indonesian Ministry of Tourism declared Tana Toraja Regency the prima donna of South Sulawesi. Tana Toraja was heralded as "the second stop after Bali".[5] Tourism was increasing dramatically: by 1985, a total number of 150,000 foreigners had visited the Regency (in addition to 80,000 domestic tourists),[4] and the annual number of foreign visitors was recorded at 40,000 in 1989.[7] Souvenir stands appeared in Rantepao, the cultural center of Toraja, roads were sealed at the most-visited tourist sites, new hotels and tourist-oriented restaurants were opened, and an airstrip was opened in the Regency in 1981.[15]

Tourism developers have marketed Tana Toraja as an exotic adventure—an area rich in culture and off the beaten track. Western tourists expected to see stone-age villages and pagan funerals. Toraja is for tourists who have gone as far as Bali and are willing to see more of the wild, "untouched" islands. However, they were more likely to see a Torajan wearing a hat and denim, living in a Christian society.[7] Tourists felt that the tongkonan and other Torajan rituals had been preconceived to make profits, and complained that the destination was too commercialized. This has resulted in several clashes between Torajans and tourism developers, whom Torajans see as outsiders.[4]

A clash between local Torajan leaders and the South Sulawesi provincial government (as a tourist developer) broke out in 1985. The government designated 18 Toraja villages and burial sites as traditional "touristic object". Consequently, zoning restrictions were applied to these areas, such that Torajans themselves were barred from changing their tongkonans and burial sites. The plan was opposed by some Torajan leaders, as they felt that their rituals and traditions were being determined by outsiders. As a result, in 1987, the Torajan village of Kété Kesú and several other designated "tourist objects" closed their doors to tourists. This closure lasted only a few days, as the villagers found it too difficult to survive without the income from selling souvenirs.[4]

Tourism has also transformed Toraja society. Originally, there was a ritual which allowed commoners to marry nobles (puang) and thereby gain nobility for their children. However, the image of Torajan society created for the tourists, often by "lower-ranking" guides, has eroded its traditional strict hierarchy.[5] High status is not as esteemed in Tana Toraja as it once was. Many low-ranking men can declare themselves and their children nobles by gaining enough wealth through work outside the region and then marrying a noble woman.

Read More......
From Wikipedia, the free encyclopedia
Before the 1970s, Toraja was almost unknown to Western tourism. In 1971, about 50 Europeans visited Tana Toraja. In 1972, at least 400 visitors attended the funeral ritual of Puang of Sangalla, the highest-ranking nobleman in Tana Toraja and the last pure-blooded Toraja noble. The event was documented by National Geographic and broadcast in several European countries.[7] In 1976, about 12,000 tourists visited the regency and in 1981, Torajan sculpture was exhibited in major North American museums.[32] "The land of the heavenly kings of Tana Toraja", as written in the exhibition brochure, embraced the outside world.

In 1984, the Indonesian Ministry of Tourism declared Tana Toraja Regency the prima donna of South Sulawesi. Tana Toraja was heralded as "the second stop after Bali".[5] Tourism was increasing dramatically: by 1985, a total number of 150,000 foreigners had visited the Regency (in addition to 80,000 domestic tourists),[4] and the annual number of foreign visitors was recorded at 40,000 in 1989.[7] Souvenir stands appeared in Rantepao, the cultural center of Toraja, roads were sealed at the most-visited tourist sites, new hotels and tourist-oriented restaurants were opened, and an airstrip was opened in the Regency in 1981.[15]

Tourism developers have marketed Tana Toraja as an exotic adventure—an area rich in culture and off the beaten track. Western tourists expected to see stone-age villages and pagan funerals. Toraja is for tourists who have gone as far as Bali and are willing to see more of the wild, "untouched" islands. However, they were more likely to see a Torajan wearing a hat and denim, living in a Christian society.[7] Tourists felt that the tongkonan and other Torajan rituals had been preconceived to make profits, and complained that the destination was too commercialized. This has resulted in several clashes between Torajans and tourism developers, whom Torajans see as outsiders.[4]

A clash between local Torajan leaders and the South Sulawesi provincial government (as a tourist developer) broke out in 1985. The government designated 18 Toraja villages and burial sites as traditional "touristic object". Consequently, zoning restrictions were applied to these areas, such that Torajans themselves were barred from changing their tongkonans and burial sites. The plan was opposed by some Torajan leaders, as they felt that their rituals and traditions were being determined by outsiders. As a result, in 1987, the Torajan village of Kété Kesú and several other designated "tourist objects" closed their doors to tourists. This closure lasted only a few days, as the villagers found it too difficult to survive without the income from selling souvenirs.[4]

Tourism has also transformed Toraja society. Originally, there was a ritual which allowed commoners to marry nobles (puang) and thereby gain nobility for their children. However, the image of Torajan society created for the tourists, often by "lower-ranking" guides, has eroded its traditional strict hierarchy.[5] High status is not as esteemed in Tana Toraja as it once was. Many low-ranking men can declare themselves and their children nobles by gaining enough wealth through work outside the region and then marrying a noble woman.

Economy Toraja


From Wikipedia, the free encyclopedia
Prior to Suharto's "New Order" administration, the Torajan economy was based on agriculture, with cultivated wet rice in terraced fields on mountain slopes, and supplemental cassava and maize crops. Much time and energy were devoted to raising water buffalo, pigs, and chickens, primarily for ceremonial sacrifices and consumption.[11] The only agricultural industry in Toraja was a Japanese coffee factory, Kopi Toraja.

With the commencement of the New Order in 1965, Indonesia's economy developed and opened to foreign investment. Multinational oil and mining companies opened new operations in Indonesia. Torajans, particularly younger ones, relocated to work for the foreign companies—to Kalimantan for timber and oil, to Papua for mining, and to the cities of Sulawesi and Java. The out-migration of Torajans was steady until 1985.[7]

The Torajan economy gradually shifted to tourism beginning in 1984. Between 1984 and 1997, many Torajans obtained their incomes from tourism, working in hotels, as tour guides, or selling souvenirs. With the rise of political and economic instability in Indonesia in the late 1990s—including religious conflicts elsewhere on Sulawesi—tourism in Tana Toraja has declined dramatically. Toraja continues to be a well known origin for Indonesian coffee. This Arabica coffee is primarily grown by small-holders.

Read More......
From Wikipedia, the free encyclopedia
Prior to Suharto's "New Order" administration, the Torajan economy was based on agriculture, with cultivated wet rice in terraced fields on mountain slopes, and supplemental cassava and maize crops. Much time and energy were devoted to raising water buffalo, pigs, and chickens, primarily for ceremonial sacrifices and consumption.[11] The only agricultural industry in Toraja was a Japanese coffee factory, Kopi Toraja.

With the commencement of the New Order in 1965, Indonesia's economy developed and opened to foreign investment. Multinational oil and mining companies opened new operations in Indonesia. Torajans, particularly younger ones, relocated to work for the foreign companies—to Kalimantan for timber and oil, to Papua for mining, and to the cities of Sulawesi and Java. The out-migration of Torajans was steady until 1985.[7]

The Torajan economy gradually shifted to tourism beginning in 1984. Between 1984 and 1997, many Torajans obtained their incomes from tourism, working in hotels, as tour guides, or selling souvenirs. With the rise of political and economic instability in Indonesia in the late 1990s—including religious conflicts elsewhere on Sulawesi—tourism in Tana Toraja has declined dramatically. Toraja continues to be a well known origin for Indonesian coffee. This Arabica coffee is primarily grown by small-holders.

Language Toraja


From Wikipedia, the free encyclopedia

The ethnic Toraja language is dominant in Tana Toraja with the main language as the Sa'dan Toraja. Although the national Indonesian language is the official language and is spoken in the community,[1] all elementary schools in Tana Toraja teach Toraja language.

Language varieties of Toraja, including Kalumpang, Mamasa, Tae' , Talondo' , Toala' , and Toraja-Sa'dan, belong to the Malayo-Polynesian language from the Austronesian family.[31] At the outset, the isolated geographical nature of Tana Toraja formed many dialects between the Toraja languages themselves. After the formal administration of Tana Toraja, some Toraja dialects have been influenced by other languages through the transmigration program, introduced since the colonialism period, and it has been a major factor in the linguistic variety of Toraja languages.[6]
A prominent attribute of Toraja language is the notion of grief. The importance of death ceremony in Toraja culture has characterized their languages to express intricate degrees of grief and mourning.[24] The Toraja language contains many terms referring sadness, longing, depression, and mental pain. It is a catharsis to give a clear notion about psychological and physical effect of loss, and sometimes to lessen the pain of grief itself.

Linguistic variety of Toraja languages Denominations ISO 639-3 Population (as of) Dialects
1.Kalumpang kli 12,000 (1991) Karataun, Mablei, Mangki (E'da), Bone Hau (Ta'da).
2.Mamasa mqj 100,000 (1991) Northern Mamasa, Central Mamasa, Pattae' (Southern Mamasa, Patta' Binuang, Binuang, Tae', Binuang-Paki-Batetanga-Anteapi)
3.Ta'e rob 250,000 (1992) Rongkong, Northeast Luwu, South Luwu, Bua.
4.Talondo' tln 500 (1986)
5.Toala' tlz 30,000 (1983) Toala', Palili'.
6.Torajan-Sa'dan sda 500,000 (1990) Makale (Tallulembangna), Rantepao (Kesu'), Toraja Barat (West Toraja, Mappa-Pana).

Source: Gordon (2005).[31]

Read More......
From Wikipedia, the free encyclopedia

The ethnic Toraja language is dominant in Tana Toraja with the main language as the Sa'dan Toraja. Although the national Indonesian language is the official language and is spoken in the community,[1] all elementary schools in Tana Toraja teach Toraja language.

Language varieties of Toraja, including Kalumpang, Mamasa, Tae' , Talondo' , Toala' , and Toraja-Sa'dan, belong to the Malayo-Polynesian language from the Austronesian family.[31] At the outset, the isolated geographical nature of Tana Toraja formed many dialects between the Toraja languages themselves. After the formal administration of Tana Toraja, some Toraja dialects have been influenced by other languages through the transmigration program, introduced since the colonialism period, and it has been a major factor in the linguistic variety of Toraja languages.[6]
A prominent attribute of Toraja language is the notion of grief. The importance of death ceremony in Toraja culture has characterized their languages to express intricate degrees of grief and mourning.[24] The Toraja language contains many terms referring sadness, longing, depression, and mental pain. It is a catharsis to give a clear notion about psychological and physical effect of loss, and sometimes to lessen the pain of grief itself.

Linguistic variety of Toraja languages Denominations ISO 639-3 Population (as of) Dialects
1.Kalumpang kli 12,000 (1991) Karataun, Mablei, Mangki (E'da), Bone Hau (Ta'da).
2.Mamasa mqj 100,000 (1991) Northern Mamasa, Central Mamasa, Pattae' (Southern Mamasa, Patta' Binuang, Binuang, Tae', Binuang-Paki-Batetanga-Anteapi)
3.Ta'e rob 250,000 (1992) Rongkong, Northeast Luwu, South Luwu, Bua.
4.Talondo' tln 500 (1986)
5.Toala' tlz 30,000 (1983) Toala', Palili'.
6.Torajan-Sa'dan sda 500,000 (1990) Makale (Tallulembangna), Rantepao (Kesu'), Toraja Barat (West Toraja, Mappa-Pana).

Source: Gordon (2005).[31]

Culture Toraja


From Wikipedia, the free encyclopedia

Tongkonan
Main article: Tongkonan
Tongkonan are the traditional Torajan ancestral houses. They stand high on wooden piles, topped with a layered split-bamboo roof shaped in a sweeping curved arc, and they are incised with red, black, and yellow detailed wood carvings on the exterior walls. The word "tongkonan" comes from the Torajan tongkon ("to sit").

Tongkonan are the center of Torajan social life. The rituals associated with the tongkonan are important expressions of Torajan spiritual life, and therefore all family members are impelled to participate, because symbolically the tongkonan represents links to their ancestors and to living and future kin.[15] According to Torajan myth, the first tongkonan was built in heaven on four poles, with a roof made of Indian cloth. When the first Torajan ancestor descended to earth, he imitated the house and held a large ceremony.[20]

The construction of a tongkonan is laborious work and is usually done with the help of the extended family. There are three types of tongkonan. The tongkonan layuk is the house of the highest authority, used as the "center of government". The tongkonan pekamberan belongs to the family members who have some authority in local traditions. Ordinary family members reside in the tongkonan batu. The exclusivity to the nobility of the tongkonan is diminishing as many Torajan commoners find lucrative employment in other parts of Indonesia. As they send back money to their families, they enable the construction of larger tongkonan

Wood carvings
The Toraja language is only spoken; no writing system exists.[21] To express social and religious concepts, Torajans carve wood, calling it Pa'ssura (or "the writing"). Wood carvings are therefore Toraja's cultural manifestation.

Each carving receives a special name, and common motifs are animals and plants that symbolize some virtue. For example, water plants and animals, such as crabs, tadpoles and water weeds, are commonly found to symbolize fertility. The image to the left shows an example of Torajan wood carving, consisting of 15 square panels. The center bottom panel represents buffalo or wealth, a wish for many buffaloes for the family. The center panel represents a knot and a box, a hope that all of the family's offspring will be happy and live in harmony, like goods kept safe in a box. The top left and top right squares represent an aquatic animal, indicating the need for fast and hard work, just like moving on the surface of water. It also represents the need for a certain skill to produce good results.

Regularity and order are common features in Toraja wood carving (see table below), as well as abstracts and geometrical designs. Nature is frequently used as the basis of Toraja's ornaments, because nature is full of abstractions and geometries with regularities and ordering.[21] Toraja's ornaments have been studied in ethnomathematics to reveal their mathematical structure, but Torajans base this art only on approximations.[21] To create an ornament, bamboo sticks are used as a geometrical tool.

Funeral rites
In Toraja society, the funeral ritual is the most elaborate and expensive event. The richer and more powerful the individual, the more expensive is the funeral. In the aluk religion, only nobles have the right to have an extensive death feast.[23] The death feast of a nobleman is usually attended by thousands and lasts for several days. A ceremonial site, called rante, is usually prepared in a large, grassy field where shelters for audiences, rice barns, and other ceremonial funeral structures are specially made by the deceased family. Flute music, funeral chants, songs and poems, and crying and wailing are traditional Toraja expressions of grief with the exceptions of funerals for young children, and poor, low-status adults.[24]

The ceremony is often held weeks, months, or years after the death so that the deceased's family can raise the significant funds needed to cover funeral expenses.[25] Torajans traditionally believe that death is not a sudden, abrupt event, but a gradual process toward Puya (the land of souls, or afterlife). During the waiting period, the body of the deceased is wrapped in several layers of cloth and kept under the tongkonan. The soul of the deceased is thought to linger around the village until the funeral ceremony is completed, after which it begins its journey to Puya.[26]
Another component of the ritual is the slaughter of water buffalo. The more powerful the person who died, the more buffalo are slaughtered at the death feast. Buffalo carcasses, including their heads, are usually lined up on a field waiting for their owner, who is in the "sleeping stage". Torajans believe that the deceased will need the buffalo to make the journey and that they will be quicker to arrive at Puya if they have many buffalo. Slaughtering tens of water buffalo and hundred of pigs using a machete is the climax of the elaborate death feast, with dancing and music and young boys who catch spurting blood in long bamboo tubes. Some of the slaughtered animals are given by guests as "gifts", which are carefully noted because they will be considered debts of the deceased's family.[27]

There are three methods of burial: the coffin may be laid in a cave or in a carved stone grave, or hung on a cliff. It contains any possessions that the deceased will need in the afterlife. The wealthy are often buried in a stone grave carved out of a rocky cliff. The grave is usually expensive and takes a few months to complete. In some areas, a stone cave may be found that is large enough to accommodate a whole family. A wood-carved effigy, called tau tau, is usually placed in the cave looking out over the land.[28] The coffin of a baby or child may be hung from ropes on a cliff face or from a tree. This hanging grave usually lasts for years, until the ropes rot and the coffin falls to the ground.

Dance and music
Torajans perform dances on several occasions, most often during their elaborate funeral ceremonies. They dance to express their grief, and to honour and even cheer the deceased person because he is going to have a long journey in the afterlife. First, a group of men form a circle and sing a monotonous chant throughout the night to honour the deceased (a ritual called Ma'badong).[27][6] This is considered by many Torajans to be the most important component of the funeral ceremony.[24] On the second funeral day, the Ma'randing warrior dance is performed to praise the courage of the deceased during life. Several men perform the dance with a sword, a large shield made from buffalo skin, a helmet with a buffalo horn, and other ornamentation. The Ma'randing dance precedes a procession in which the deceased is carried from a rice barn to the rante, the site of the funeral ceremony. During the funeral, elder women perform the Ma'katia dance while singing a poetic song and wearing a long feathered costume. The Ma'akatia dance is performed to remind the audience of the generosity and loyalty of the deceased person. After the bloody ceremony of buffalo and pig slaughter, a group of boys and girls clap their hands while performing a cheerful dance called Ma'dondan.
As in other agricultural societies, Torajans dance and sing during harvest time. The Ma'bugi dance celebrates the thanksgiving event, and the Ma'gandangi dance is performed while Torajans are pounding rice.[29] There are several war dances, such as the Manimbong dance performed by men, followed by the Ma'dandan dance performed by women. The aluk religion governs when and how Torajans dance. A dance called Ma'bua can be performed only once every 12 years. Ma'bua is a major Toraja ceremony in which priests wear a buffalo head and dance around a sacred tree.

A traditional musical instrument of the Toraja is a bamboo flute called a Pa'suling (suling is an Indonesian word for flute). This six-holed flute (not unique to the Toraja) is played at many dances, such as the thanksgiving dance Ma'bondensan, where the flute accompanies a group of shirtless, dancing men with long fingernails. The Toraja have indigenous musical instruments, such as the Pa'pelle (made from palm leaves) and the Pa'karombi (the Torajan version of a Jew's harp). The Pa'pelle is played during harvest time and at house inauguration ceremonies.[30]

Read More......
From Wikipedia, the free encyclopedia

Tongkonan
Main article: Tongkonan
Tongkonan are the traditional Torajan ancestral houses. They stand high on wooden piles, topped with a layered split-bamboo roof shaped in a sweeping curved arc, and they are incised with red, black, and yellow detailed wood carvings on the exterior walls. The word "tongkonan" comes from the Torajan tongkon ("to sit").

Tongkonan are the center of Torajan social life. The rituals associated with the tongkonan are important expressions of Torajan spiritual life, and therefore all family members are impelled to participate, because symbolically the tongkonan represents links to their ancestors and to living and future kin.[15] According to Torajan myth, the first tongkonan was built in heaven on four poles, with a roof made of Indian cloth. When the first Torajan ancestor descended to earth, he imitated the house and held a large ceremony.[20]

The construction of a tongkonan is laborious work and is usually done with the help of the extended family. There are three types of tongkonan. The tongkonan layuk is the house of the highest authority, used as the "center of government". The tongkonan pekamberan belongs to the family members who have some authority in local traditions. Ordinary family members reside in the tongkonan batu. The exclusivity to the nobility of the tongkonan is diminishing as many Torajan commoners find lucrative employment in other parts of Indonesia. As they send back money to their families, they enable the construction of larger tongkonan

Wood carvings
The Toraja language is only spoken; no writing system exists.[21] To express social and religious concepts, Torajans carve wood, calling it Pa'ssura (or "the writing"). Wood carvings are therefore Toraja's cultural manifestation.

Each carving receives a special name, and common motifs are animals and plants that symbolize some virtue. For example, water plants and animals, such as crabs, tadpoles and water weeds, are commonly found to symbolize fertility. The image to the left shows an example of Torajan wood carving, consisting of 15 square panels. The center bottom panel represents buffalo or wealth, a wish for many buffaloes for the family. The center panel represents a knot and a box, a hope that all of the family's offspring will be happy and live in harmony, like goods kept safe in a box. The top left and top right squares represent an aquatic animal, indicating the need for fast and hard work, just like moving on the surface of water. It also represents the need for a certain skill to produce good results.

Regularity and order are common features in Toraja wood carving (see table below), as well as abstracts and geometrical designs. Nature is frequently used as the basis of Toraja's ornaments, because nature is full of abstractions and geometries with regularities and ordering.[21] Toraja's ornaments have been studied in ethnomathematics to reveal their mathematical structure, but Torajans base this art only on approximations.[21] To create an ornament, bamboo sticks are used as a geometrical tool.

Funeral rites
In Toraja society, the funeral ritual is the most elaborate and expensive event. The richer and more powerful the individual, the more expensive is the funeral. In the aluk religion, only nobles have the right to have an extensive death feast.[23] The death feast of a nobleman is usually attended by thousands and lasts for several days. A ceremonial site, called rante, is usually prepared in a large, grassy field where shelters for audiences, rice barns, and other ceremonial funeral structures are specially made by the deceased family. Flute music, funeral chants, songs and poems, and crying and wailing are traditional Toraja expressions of grief with the exceptions of funerals for young children, and poor, low-status adults.[24]

The ceremony is often held weeks, months, or years after the death so that the deceased's family can raise the significant funds needed to cover funeral expenses.[25] Torajans traditionally believe that death is not a sudden, abrupt event, but a gradual process toward Puya (the land of souls, or afterlife). During the waiting period, the body of the deceased is wrapped in several layers of cloth and kept under the tongkonan. The soul of the deceased is thought to linger around the village until the funeral ceremony is completed, after which it begins its journey to Puya.[26]
Another component of the ritual is the slaughter of water buffalo. The more powerful the person who died, the more buffalo are slaughtered at the death feast. Buffalo carcasses, including their heads, are usually lined up on a field waiting for their owner, who is in the "sleeping stage". Torajans believe that the deceased will need the buffalo to make the journey and that they will be quicker to arrive at Puya if they have many buffalo. Slaughtering tens of water buffalo and hundred of pigs using a machete is the climax of the elaborate death feast, with dancing and music and young boys who catch spurting blood in long bamboo tubes. Some of the slaughtered animals are given by guests as "gifts", which are carefully noted because they will be considered debts of the deceased's family.[27]

There are three methods of burial: the coffin may be laid in a cave or in a carved stone grave, or hung on a cliff. It contains any possessions that the deceased will need in the afterlife. The wealthy are often buried in a stone grave carved out of a rocky cliff. The grave is usually expensive and takes a few months to complete. In some areas, a stone cave may be found that is large enough to accommodate a whole family. A wood-carved effigy, called tau tau, is usually placed in the cave looking out over the land.[28] The coffin of a baby or child may be hung from ropes on a cliff face or from a tree. This hanging grave usually lasts for years, until the ropes rot and the coffin falls to the ground.

Dance and music
Torajans perform dances on several occasions, most often during their elaborate funeral ceremonies. They dance to express their grief, and to honour and even cheer the deceased person because he is going to have a long journey in the afterlife. First, a group of men form a circle and sing a monotonous chant throughout the night to honour the deceased (a ritual called Ma'badong).[27][6] This is considered by many Torajans to be the most important component of the funeral ceremony.[24] On the second funeral day, the Ma'randing warrior dance is performed to praise the courage of the deceased during life. Several men perform the dance with a sword, a large shield made from buffalo skin, a helmet with a buffalo horn, and other ornamentation. The Ma'randing dance precedes a procession in which the deceased is carried from a rice barn to the rante, the site of the funeral ceremony. During the funeral, elder women perform the Ma'katia dance while singing a poetic song and wearing a long feathered costume. The Ma'akatia dance is performed to remind the audience of the generosity and loyalty of the deceased person. After the bloody ceremony of buffalo and pig slaughter, a group of boys and girls clap their hands while performing a cheerful dance called Ma'dondan.
As in other agricultural societies, Torajans dance and sing during harvest time. The Ma'bugi dance celebrates the thanksgiving event, and the Ma'gandangi dance is performed while Torajans are pounding rice.[29] There are several war dances, such as the Manimbong dance performed by men, followed by the Ma'dandan dance performed by women. The aluk religion governs when and how Torajans dance. A dance called Ma'bua can be performed only once every 12 years. Ma'bua is a major Toraja ceremony in which priests wear a buffalo head and dance around a sacred tree.

A traditional musical instrument of the Toraja is a bamboo flute called a Pa'suling (suling is an Indonesian word for flute). This six-holed flute (not unique to the Toraja) is played at many dances, such as the thanksgiving dance Ma'bondensan, where the flute accompanies a group of shirtless, dancing men with long fingernails. The Toraja have indigenous musical instruments, such as the Pa'pelle (made from palm leaves) and the Pa'karombi (the Torajan version of a Jew's harp). The Pa'pelle is played during harvest time and at house inauguration ceremonies.[30]

Society Toraja


From Wikipedia, the free encyclopedia
There are three main types of affiliation in Toraja society: family, class and religion.
Family affiliation
Family is the primary social and political grouping in Torajan society. Each village is one extended family, the seat of which is the tongkonan, a traditional Torajan house. Each tongkonan has a name, which becomes the name of the village. The familial dons maintain village unity. Marriage between distant cousins (fourth cousins and beyond) is a common practice that strengthens kinship. Toraja society prohibits marriage between close cousins (up to and including the third cousin)—except for nobles, to prevent the dispersal of property.[13] Kinship is actively reciprocal, meaning that the extended family helps each other farm, share buffalo rituals, and pay off debts.

Each person belongs to both the mother's and the father's families, the only bilateral family line in Indonesia.[14] Children, therefore, inherit household affiliation from both mother and father, including land and even family debts. Children's names are given on the basis of kinship, and are usually chosen after dead relatives. Names of aunts, uncles and cousins are commonly referred to in the names of mothers, fathers and siblings.

Before the start of the formal administration of Toraja villages by the Tana Toraja Regency, each Toraja village was autonomous. In a more complex situation, in which one Toraja family could not handle their problems alone, several villages formed a group; sometimes, villages would unite against other villages. Relationship between families was expressed through blood, marriage, and shared ancestral houses (tongkonan), practically signed by the exchange of buffalo and pigs on ritual occasions. Such exchanges not only built political and cultural ties between families but defined each person's place in a social hierarchy: who poured palm wine, who wrapped a corpse and prepared offerings, where each person could or could not sit, what dishes should be used or avoided, and even what piece of meat constituted one's share.[15]

[edit] Class affiliation

In early Toraja society, family relationships were tied closely to social class. There were three strata: nobles, commoners, and slaves (slavery was abolished in 1909 by the Dutch East Indies government). Class was inherited through the mother. It was taboo, therefore, to marry "down" with a woman of lower class. On the other hand, marrying a woman of higher class could improve the status of the next generation. The nobility's condescending attitude toward the commoners is still maintained today for reasons of family prestige.[5]

Nobles, who were believed to be direct descendants of the descended person from heaven,[16] lived in tongkonans, while commoners lived in less lavish houses (bamboo shacks called banua). Slaves lived in small huts, which had to be built around their owner's tongkonan. Commoners might marry anyone, but nobles preferred to marry in-family to maintain their status. Sometimes nobles married Bugis or Makassarese nobles. Commoners and slaves were prohibited from having death feasts. Despite close kinship and status inheritance, there was some social mobility, as marriage or change in wealth could affect an individuals status.[13] Wealth was counted by the ownership of water buffaloes.

Slaves in Toraja society were family property. Sometimes Torajans decided to become slaves when they incurred a debt, pledging to work as payment. Slaves could be taken during wars, and slave trading was common. Slaves could buy their freedom, but their children still inherited slave status. Slaves were prohibited from wearing bronze or gold, carving their houses, eating from the same dishes as their owners, or having sex with free women—a crime punishable by death.

[edit] Religious affiliation

Toraja's indigenous belief system is polytheistic animism, called aluk, or "the way" (sometimes translated as "the law"). In the Toraja myth, the ancestors of Torajan people came down from heaven using stairs, which were then used by the Torajans as a communication medium with Puang Matua, the Creator.[17] The cosmos, according to aluk, is divided into the upper world (heaven), the world of man (earth), and the underworld.[9] At first, heaven and earth were married, then there was a darkness, a separation, and finally the light. Animals live in the underworld, which is represented by rectangular space enclosed by pillars, the earth is for mankind, and the heaven world is located above, covered with a saddle-shaped roof. Other Toraja gods include Pong Banggai di Rante (god of Earth), Indo' Ongon-Ongon (a goddess who can cause earthquakes), Pong Lalondong (god of death), and Indo' Belo Tumbang (goddess of medicine); there are many more.[18]

The earthly authority, whose words and actions should be cleaved to both in life (agriculture) and death (funerals), is called to minaa (an aluk priest). Aluk is not just a belief system; it is a combination of law, religion, and habit. Aluk governs social life, agricultural practices, and ancestral rituals. The details of aluk may vary from one village to another. One common law is the requirement that death and life rituals be separated. Torajans believe that performing death rituals might ruin their corpses if combined with life rituals.[19] The two rituals are equally important. During the time of the Dutch missionaries, Christian Torajans were prohibited from attending or performing life rituals, but were allowed to perform death rituals.[10] Consequently, Toraja's death rituals are still practiced today, while life rituals have diminished.

Read More......
From Wikipedia, the free encyclopedia
There are three main types of affiliation in Toraja society: family, class and religion.
Family affiliation
Family is the primary social and political grouping in Torajan society. Each village is one extended family, the seat of which is the tongkonan, a traditional Torajan house. Each tongkonan has a name, which becomes the name of the village. The familial dons maintain village unity. Marriage between distant cousins (fourth cousins and beyond) is a common practice that strengthens kinship. Toraja society prohibits marriage between close cousins (up to and including the third cousin)—except for nobles, to prevent the dispersal of property.[13] Kinship is actively reciprocal, meaning that the extended family helps each other farm, share buffalo rituals, and pay off debts.

Each person belongs to both the mother's and the father's families, the only bilateral family line in Indonesia.[14] Children, therefore, inherit household affiliation from both mother and father, including land and even family debts. Children's names are given on the basis of kinship, and are usually chosen after dead relatives. Names of aunts, uncles and cousins are commonly referred to in the names of mothers, fathers and siblings.

Before the start of the formal administration of Toraja villages by the Tana Toraja Regency, each Toraja village was autonomous. In a more complex situation, in which one Toraja family could not handle their problems alone, several villages formed a group; sometimes, villages would unite against other villages. Relationship between families was expressed through blood, marriage, and shared ancestral houses (tongkonan), practically signed by the exchange of buffalo and pigs on ritual occasions. Such exchanges not only built political and cultural ties between families but defined each person's place in a social hierarchy: who poured palm wine, who wrapped a corpse and prepared offerings, where each person could or could not sit, what dishes should be used or avoided, and even what piece of meat constituted one's share.[15]

[edit] Class affiliation

In early Toraja society, family relationships were tied closely to social class. There were three strata: nobles, commoners, and slaves (slavery was abolished in 1909 by the Dutch East Indies government). Class was inherited through the mother. It was taboo, therefore, to marry "down" with a woman of lower class. On the other hand, marrying a woman of higher class could improve the status of the next generation. The nobility's condescending attitude toward the commoners is still maintained today for reasons of family prestige.[5]

Nobles, who were believed to be direct descendants of the descended person from heaven,[16] lived in tongkonans, while commoners lived in less lavish houses (bamboo shacks called banua). Slaves lived in small huts, which had to be built around their owner's tongkonan. Commoners might marry anyone, but nobles preferred to marry in-family to maintain their status. Sometimes nobles married Bugis or Makassarese nobles. Commoners and slaves were prohibited from having death feasts. Despite close kinship and status inheritance, there was some social mobility, as marriage or change in wealth could affect an individuals status.[13] Wealth was counted by the ownership of water buffaloes.

Slaves in Toraja society were family property. Sometimes Torajans decided to become slaves when they incurred a debt, pledging to work as payment. Slaves could be taken during wars, and slave trading was common. Slaves could buy their freedom, but their children still inherited slave status. Slaves were prohibited from wearing bronze or gold, carving their houses, eating from the same dishes as their owners, or having sex with free women—a crime punishable by death.

[edit] Religious affiliation

Toraja's indigenous belief system is polytheistic animism, called aluk, or "the way" (sometimes translated as "the law"). In the Toraja myth, the ancestors of Torajan people came down from heaven using stairs, which were then used by the Torajans as a communication medium with Puang Matua, the Creator.[17] The cosmos, according to aluk, is divided into the upper world (heaven), the world of man (earth), and the underworld.[9] At first, heaven and earth were married, then there was a darkness, a separation, and finally the light. Animals live in the underworld, which is represented by rectangular space enclosed by pillars, the earth is for mankind, and the heaven world is located above, covered with a saddle-shaped roof. Other Toraja gods include Pong Banggai di Rante (god of Earth), Indo' Ongon-Ongon (a goddess who can cause earthquakes), Pong Lalondong (god of death), and Indo' Belo Tumbang (goddess of medicine); there are many more.[18]

The earthly authority, whose words and actions should be cleaved to both in life (agriculture) and death (funerals), is called to minaa (an aluk priest). Aluk is not just a belief system; it is a combination of law, religion, and habit. Aluk governs social life, agricultural practices, and ancestral rituals. The details of aluk may vary from one village to another. One common law is the requirement that death and life rituals be separated. Torajans believe that performing death rituals might ruin their corpses if combined with life rituals.[19] The two rituals are equally important. During the time of the Dutch missionaries, Christian Torajans were prohibited from attending or performing life rituals, but were allowed to perform death rituals.[10] Consequently, Toraja's death rituals are still practiced today, while life rituals have diminished.

History Toraja


From Wikipedia, the free encyclopedia
From the 17th century, the Dutch established trade and political control on Sulawesi through the Dutch East Indies Company. Over two centuries, they ignored the mountainous area in the central Sulawesi, where Torajans lived, because access was difficult and it had little productive agricultural land. In the late 19th century, the Dutch became increasingly concerned about the spread of Islam in the south of Sulawesi, especially among the Makassarese and Bugis peoples. The Dutch saw the animist highlanders as potential Christians. In the 1920s, the Reformed Missionary Alliance of the Dutch Reformed Church began missionary work aided by the Dutch colonial government.[7] In addition to introducing Christianity, the Dutch abolished slavery and imposed local taxes. A line was drawn around the Sa'dan area and called Tana Toraja ("the land of Toraja"). Tana Toraja was first a subdivision of the Luwu kingdom that had claimed the area.[8] In 1946, the Dutch granted Tana Toraja a regentschap, and it was recognized in 1957 as one of the regencies of Indonesia.[7]

Early Dutch missionaries faced strong opposition among Torajans, especially among the elite, because the abolition of their profitable slave trade had angered them.[9] Some Torajans were forcibly relocated to the lowlands by the Dutch, where they could be more easily controlled. Taxes were kept high, undermining the wealth of the elites. Ultimately, the Dutch influence did not subdue Torajan culture, and only a few Torajans were converted.[10] In 1950, only 10% of the population had converted to Christianity.[9]

In the 1930s, Muslim lowlanders attacked the Torajans, resulting in widespread Christian conversion among those who sought to align themselves with the Dutch for political protection and to form a movement against the Bugis and Makassarese Muslims. Between 1951 and 1965 (following Indonesian independence), southern Sulawesi faced a turbulent period as the Darul Islam separatist movement fought for an Islamic state in Sulawesi. The 15 years of guerrilla warfare led to massive conversions to Christianity.[11]

Alignment with the Indonesian government, however, did not guarantee safety for the Torajans. In 1965, a presidential decree required every Indonesian citizen to belong to one of five officially recognized religions: Islam, Christianity (Protestantism and Catholicism), Hinduism, or Buddhism.[12] The Torajan religious belief (aluk) was not legally recognized, and the Torajans raised their voices against the law. To make aluk accord with the law, it had to be accepted as part of one of the official religions. In 1969, Aluk To Dolo ("the way of ancestors") was legalized as a sect of Agama Hindu Dharma, the official name of Hinduism in Indonesia.[7]

Read More......
From Wikipedia, the free encyclopedia
From the 17th century, the Dutch established trade and political control on Sulawesi through the Dutch East Indies Company. Over two centuries, they ignored the mountainous area in the central Sulawesi, where Torajans lived, because access was difficult and it had little productive agricultural land. In the late 19th century, the Dutch became increasingly concerned about the spread of Islam in the south of Sulawesi, especially among the Makassarese and Bugis peoples. The Dutch saw the animist highlanders as potential Christians. In the 1920s, the Reformed Missionary Alliance of the Dutch Reformed Church began missionary work aided by the Dutch colonial government.[7] In addition to introducing Christianity, the Dutch abolished slavery and imposed local taxes. A line was drawn around the Sa'dan area and called Tana Toraja ("the land of Toraja"). Tana Toraja was first a subdivision of the Luwu kingdom that had claimed the area.[8] In 1946, the Dutch granted Tana Toraja a regentschap, and it was recognized in 1957 as one of the regencies of Indonesia.[7]

Early Dutch missionaries faced strong opposition among Torajans, especially among the elite, because the abolition of their profitable slave trade had angered them.[9] Some Torajans were forcibly relocated to the lowlands by the Dutch, where they could be more easily controlled. Taxes were kept high, undermining the wealth of the elites. Ultimately, the Dutch influence did not subdue Torajan culture, and only a few Torajans were converted.[10] In 1950, only 10% of the population had converted to Christianity.[9]

In the 1930s, Muslim lowlanders attacked the Torajans, resulting in widespread Christian conversion among those who sought to align themselves with the Dutch for political protection and to form a movement against the Bugis and Makassarese Muslims. Between 1951 and 1965 (following Indonesian independence), southern Sulawesi faced a turbulent period as the Darul Islam separatist movement fought for an Islamic state in Sulawesi. The 15 years of guerrilla warfare led to massive conversions to Christianity.[11]

Alignment with the Indonesian government, however, did not guarantee safety for the Torajans. In 1965, a presidential decree required every Indonesian citizen to belong to one of five officially recognized religions: Islam, Christianity (Protestantism and Catholicism), Hinduism, or Buddhism.[12] The Torajan religious belief (aluk) was not legally recognized, and the Torajans raised their voices against the law. To make aluk accord with the law, it had to be accepted as part of one of the official religions. In 1969, Aluk To Dolo ("the way of ancestors") was legalized as a sect of Agama Hindu Dharma, the official name of Hinduism in Indonesia.[7]

Ethnic identity Toraja


From Wikipedia, the free encyclopedia
The Torajan people had little notion of themselves as a distinct ethnic group before the 20th century. Before Dutch colonization and Christianization, Torajans, who lived in highland areas, identified with their villages and did not share a broad sense of identity. Although complexes of rituals created linkages between highland villages, there were variations in dialects, differences in social hierarchies, and an array of ritual practices in the Sulawesi highland region. "Toraja" (from the coastal languages' to, meaning people; and riaja, uplands) was first used as a lowlander expression for highlanders.[3] As a result, "Toraja" initially had more currency with outsiders—such as the Bugis and Makassarese, who constitute a majority of the lowland of Sulawesi—than with insiders. The Dutch missionaries' presence in the highlands gave rise to the Toraja ethnic consciousness in the Sa'dan Toraja region, and this shared identity grew with the rise of tourism in the Tana Toraja Regency.[4] Since then, South Sulawesi has four main ethnic groups—the Bugis (the majority, including shipbuilders and seafarers), the Makassarese (lowland traders and seafarers), the Mandarese (traders and fishermen), and the Toraja (highland rice cultivators).[6]


Read More......
From Wikipedia, the free encyclopedia
The Torajan people had little notion of themselves as a distinct ethnic group before the 20th century. Before Dutch colonization and Christianization, Torajans, who lived in highland areas, identified with their villages and did not share a broad sense of identity. Although complexes of rituals created linkages between highland villages, there were variations in dialects, differences in social hierarchies, and an array of ritual practices in the Sulawesi highland region. "Toraja" (from the coastal languages' to, meaning people; and riaja, uplands) was first used as a lowlander expression for highlanders.[3] As a result, "Toraja" initially had more currency with outsiders—such as the Bugis and Makassarese, who constitute a majority of the lowland of Sulawesi—than with insiders. The Dutch missionaries' presence in the highlands gave rise to the Toraja ethnic consciousness in the Sa'dan Toraja region, and this shared identity grew with the rise of tourism in the Tana Toraja Regency.[4] Since then, South Sulawesi has four main ethnic groups—the Bugis (the majority, including shipbuilders and seafarers), the Makassarese (lowland traders and seafarers), the Mandarese (traders and fishermen), and the Toraja (highland rice cultivators).[6]


Toraja


From Wikipedia, the free encyclopedia
The Toraja are an ethnic group indigenous to a mountainous region of South Sulawesi, Indonesia. Their population is approximately 650,000, of which 450,000 still live in the regency of Tana Toraja ("Land of Toraja").[1] Most of the population is Christian, and others are Muslim or have local animist beliefs known as aluk ("the way"). The Indonesian government has recognized this animist belief as Aluk To Dolo ("Way of the Ancestors").

The word toraja comes from the Bugis language's to riaja, meaning "people of the uplands". The Dutch colonial government named the people Toraja in 1909.[3] Torajans are renowned for their elaborate funeral rites, burial sites carved into rocky cliffs, massive peaked-roof traditional houses known as tongkonan, and colorful wood carvings. Toraja funeral rites are important social events, usually attended by hundreds of people and lasting for several days.

Before the 20th century, Torajans lived in autonomous villages, where they practised animism and were relatively untouched by the outside world. In the early 1900s, Dutch missionaries first worked to convert Torajan highlanders to Christianity. When the Tana Toraja regency was further opened to the outside world in the 1970s, it became an icon of tourism in Indonesia: it was exploited by tourism developers and studied by anthropologists.[4] By the 1990s, when tourism peaked, Toraja society had changed significantly, from an agrarian model — in which social life and customs were outgrowths of the Aluk To Dolo—to a largely Christian society.


Read More......
From Wikipedia, the free encyclopedia
The Toraja are an ethnic group indigenous to a mountainous region of South Sulawesi, Indonesia. Their population is approximately 650,000, of which 450,000 still live in the regency of Tana Toraja ("Land of Toraja").[1] Most of the population is Christian, and others are Muslim or have local animist beliefs known as aluk ("the way"). The Indonesian government has recognized this animist belief as Aluk To Dolo ("Way of the Ancestors").

The word toraja comes from the Bugis language's to riaja, meaning "people of the uplands". The Dutch colonial government named the people Toraja in 1909.[3] Torajans are renowned for their elaborate funeral rites, burial sites carved into rocky cliffs, massive peaked-roof traditional houses known as tongkonan, and colorful wood carvings. Toraja funeral rites are important social events, usually attended by hundreds of people and lasting for several days.

Before the 20th century, Torajans lived in autonomous villages, where they practised animism and were relatively untouched by the outside world. In the early 1900s, Dutch missionaries first worked to convert Torajan highlanders to Christianity. When the Tana Toraja regency was further opened to the outside world in the 1970s, it became an icon of tourism in Indonesia: it was exploited by tourism developers and studied by anthropologists.[4] By the 1990s, when tourism peaked, Toraja society had changed significantly, from an agrarian model — in which social life and customs were outgrowths of the Aluk To Dolo—to a largely Christian society.