WELLCOME TO RUTHKT'S BLOG : PLEASE LEAVE YOUR COMMENT,THANK YOU. HAVE A NICE DAY

Drinking party

Drinking party
3 months ago
IndoGlobal Adventure - Toraja, Sulawesi - Indonesia We organize Adventures : Trekking, Birding, Rafting, Diving, Sailing, Fishing and more...

Insurance

Financing

Jumat, 25 Juli 2008

Pesta Adat 'Rambu Solo' di Tana Toraja Gerbang Memasuki Alam Kekal

Naparampo : Pong Sean

Selasa, 19 Juli 2005


KEMATIAN bagi yang hidup adalah sebuah keniscayaan. Demikian juga bagi masyarakat Tana Toraja, Sulsel. Tapi, sebagai gerbang ke alam yang lain, masyarakat Tana Toraja punya tradisi sendiri bagi tiap kerabatnya yang meninggal; pesta adat Rambu Solo'.
DI balik pegunungan yang sulit terjangkau kendaraan, di atas lahan yang sedikit lapang, tampak berjejer rumah-rumah dari bambu. Modelnya sederhana. Bahkan, tidak berlebih bila dinyatakan tak layak ditinggali. Dalam Bahasa Toraja, rumah-rumah bambu itu dikenal dengan nama Lantang.

Rumah-rumah bambu itu dibuat bersambung. Sebuah rumah besar, tongkonan, sebagai rumah khas adat Toraja seolah menjadi pusat dari rumah-rumah bambu itu. Sebab, di kiri kanan rumah besar itulah, rumah-rumah bambu itu didirikan. Tiap sekat rumah bambu itu diberi nomor.

Pendirian rumah-rumah bambu itu merupakan pertanda akan dimulainya sebuah pesta adat dalam tradisi masyarakat Tana Toraja. Pesta adat atas meninggalnya kerabat. Pesta adat yang merupakan warisan tradisi para leluhur; upacara penguburan atau Rambu Solo'.

Dalam bahasa lain, Rambu Solo' juga kerap dimaknai sebagai pesta kematian. Akan tetapi, makna tentu bukan berpesta atas kematian kerabat, melainkan upacara mengantar kepergian kerabat yang telah berjasa dalam hidupnya.

Siang itu, Kamis 14 Juli 2005. Di daerah Kamiri, Sangalla, Tator, berlangsung pesta adat Rambu Solo atas kematian Helena Rambulangi dalam usia 95 tahun. Hampir semua perhatian masyarakat sekitar tertuju pada acara ini. Malah, ada yang datang khusus, termasuk para turis datang jauh-jauh, hanya untuk menyaksikan jalannya acara ini.

Bahkan, ada yang sudah mengikuti upacara ini sejak Sabtu, 9 Juli. Kamis siang itu, memang menjadi puncak upacara Rambu Solo; mengantar jenazah ke pemakaman. Sebelumnya, Sabtu 9 Juli, kerabat yang datang sudah diminta mengisi lantang yang tersedia, termasuk logistik yang dibutuhkan selama acara pemakaman.

Pada hari yang sama juga digelar Ma'karudusan. Dua ekor kerbau dikorbankan sebagai pertanda dimulainya acara pemakaman. Tidak berselang lama, fase Ma'pasa' Tedong juga digelar. Semua kerbau yang telah disepakati keluarga untuk dikorbankan dikumpulkan di halaman Tongkonan tempat pesemayaman yang meninggal. Kerbau diarak berkeliling bala'kaan sebanyak tiga kali.

Keesokan harinya, secara berturut-turut dilakukan pemindahan jenazah dari Tongkonan ke Lumbung. Tiba saat Ma'pasonglo', jenazah dipindahkan dari Lumbung ke Lakkian yang berada di lokasi tempat pemakaman, setelah dilakukan ibadah. Pemindahan dilakukan dengan arak-arakan.

Hari berikutnya, keluarga yang berduka menerima kunjungan dari kerabat dan tamu lain yang menyampaikan turut berduka cita. Biasanya berlangsung selama dua hari.

Tamu dan kerabat yang datang lebih dulu mendaftar pada pos penerimaan tamu. Saat itu, tamu juga mendaftarkan hewan atau benda yang dibawanya untuk dicatat panitia. Pendaftaran ini terkait dengan pajak yang harus dibayar yang bagi masyarakat Toraja sudah menjadi salah satu sumber PAD terbesar.

Tamu yang sudah mendaftar lalu masuk ke lokasi Katongkonan secara bergiliran. Para tamu diterima secara resmi oleh keluarga dan dijamu minum kopi, teh, atau pangan. Sesudah dijamu, tamu menuju Lantang masing-masing untuk makan dan istirahat. Selanjutnya, rombongan tamu lainnya akan diterima secara resmi.

Puncak acara adalah mengarak jenazah menuju pemakaman. Semua kerbau yang sudah disepakati dikorbankan harus potong dan dagingnya dibagi-bagikan secara adat sesuai peruntukannya.

APA yang dilakukan dalam pesta Rambu Solo' sesungguhnya hanyalah sebuah simbol. Simbol dari sebuah tradisi yang turun temurun. Sebab, dalam pelaksanaan upacara ini, ada yang lebih penting; ada makna yang terkait erat dengan kepercayaan masyarakat.

Bagi sebagian orang, tradisi ini bisa jadi dinilai sebagai pemborosan. Sebab, demikian besar biaya yang harus dikeluarkan untuk penyelenggaraannya. Bahkan, ada yang sampai tertunda berbulan-bulan untuk mengumpulkan biaya pelaksanaan upacara ini; bahkan yang menyatakan, orang Toraja mencari kekayaan hanya untuk dihabiskan pada pesta kematian.

Pandangan lain menyatakan, sungguh berat acara itu dilaksanakan. Sebab, orang yang kedukaan justru harus mengeluarkan biaya besar untuk pesta. Untuk diketahui, hewan-hewan yang dikorbankan dalam upacara itu, ternyata bukan hanya dari kalangan keluarga yang meninggal, tetapi juga merupakan bantuan dari semua keluarga dan kerabat. Selain itu, hewan yang dikorbankan itu juga dibagi-bagikan, termasuk disumbangkan ke rumah-rumah ibadah. Pesta ini sesungguhnya menjadi simbol dari upaya melestarikan tradisi tolong-menolong dan gotong-royong.

Bagi masyarakat Toraja, berbicara pemakaman bukan hanya berbicara upacara, status, jumlah kerbau yang dipotong, tetapi juga soal malu (siri'). Makanya, upacara Rambu Solo juga terkait dengan tingkat stratifikasi sosial. Dulunya, pesta meriah hanya menjadi milik bangsawan kelas tinggi dalam masyarakat ini. Akan tetapi, sekarang mulai bergeser. Siapa yang kaya, itulah yang pestanya meriah.

Berbagi makanan adalah hal biasa. Olehnya itu, berkunjung ke rumah orang Toraja akan selalu diajak makan dan tidak boleh ditolak. Jika sudah makan dan kenyang, tetap ambil beberapa suap sebagai tanda persaudaraan dan penghormatan.

Menurut hukum adat Toraja, pewaris yang memberi terbanyak pada upacara pemakaman akan menerima bagian terbesar warisan, entah dia perempuan atau laki-laki.

Kepercayaan leluhur (aluk todolo) jiwa yang mati mengendarai jiwa kerbau dan babi yang dikorbankan. Makanya, hewan terbaik dan paling berharga adalah Tedong Bonga. Sebab, dengan bahu yang besar dan tanduk panjang yang kuat, bisa dikendarai bagi yang meninggal melintasi gunung dan lembah menuju alam baka (puya).

Orang Toraja percaya bahwa jiwa dari hewan korban akan mengikuti tuannya yang dikorbankan pada upacara pemakaman. Dipercaya pula, roh dari rumah dan semua milik yang meninggal akan mengikuti pemiliknya. Karenanya, sekalipun seseorang meninggal di tempat lain, keluarga berusaha membawanya kembali ke tempat asal untuk upacara pemakaman. (*)




Related Posts by Categories



Naparampo : Pong Sean

Selasa, 19 Juli 2005


KEMATIAN bagi yang hidup adalah sebuah keniscayaan. Demikian juga bagi masyarakat Tana Toraja, Sulsel. Tapi, sebagai gerbang ke alam yang lain, masyarakat Tana Toraja punya tradisi sendiri bagi tiap kerabatnya yang meninggal; pesta adat Rambu Solo'.
DI balik pegunungan yang sulit terjangkau kendaraan, di atas lahan yang sedikit lapang, tampak berjejer rumah-rumah dari bambu. Modelnya sederhana. Bahkan, tidak berlebih bila dinyatakan tak layak ditinggali. Dalam Bahasa Toraja, rumah-rumah bambu itu dikenal dengan nama Lantang.

Rumah-rumah bambu itu dibuat bersambung. Sebuah rumah besar, tongkonan, sebagai rumah khas adat Toraja seolah menjadi pusat dari rumah-rumah bambu itu. Sebab, di kiri kanan rumah besar itulah, rumah-rumah bambu itu didirikan. Tiap sekat rumah bambu itu diberi nomor.

Pendirian rumah-rumah bambu itu merupakan pertanda akan dimulainya sebuah pesta adat dalam tradisi masyarakat Tana Toraja. Pesta adat atas meninggalnya kerabat. Pesta adat yang merupakan warisan tradisi para leluhur; upacara penguburan atau Rambu Solo'.

Dalam bahasa lain, Rambu Solo' juga kerap dimaknai sebagai pesta kematian. Akan tetapi, makna tentu bukan berpesta atas kematian kerabat, melainkan upacara mengantar kepergian kerabat yang telah berjasa dalam hidupnya.

Siang itu, Kamis 14 Juli 2005. Di daerah Kamiri, Sangalla, Tator, berlangsung pesta adat Rambu Solo atas kematian Helena Rambulangi dalam usia 95 tahun. Hampir semua perhatian masyarakat sekitar tertuju pada acara ini. Malah, ada yang datang khusus, termasuk para turis datang jauh-jauh, hanya untuk menyaksikan jalannya acara ini.

Bahkan, ada yang sudah mengikuti upacara ini sejak Sabtu, 9 Juli. Kamis siang itu, memang menjadi puncak upacara Rambu Solo; mengantar jenazah ke pemakaman. Sebelumnya, Sabtu 9 Juli, kerabat yang datang sudah diminta mengisi lantang yang tersedia, termasuk logistik yang dibutuhkan selama acara pemakaman.

Pada hari yang sama juga digelar Ma'karudusan. Dua ekor kerbau dikorbankan sebagai pertanda dimulainya acara pemakaman. Tidak berselang lama, fase Ma'pasa' Tedong juga digelar. Semua kerbau yang telah disepakati keluarga untuk dikorbankan dikumpulkan di halaman Tongkonan tempat pesemayaman yang meninggal. Kerbau diarak berkeliling bala'kaan sebanyak tiga kali.

Keesokan harinya, secara berturut-turut dilakukan pemindahan jenazah dari Tongkonan ke Lumbung. Tiba saat Ma'pasonglo', jenazah dipindahkan dari Lumbung ke Lakkian yang berada di lokasi tempat pemakaman, setelah dilakukan ibadah. Pemindahan dilakukan dengan arak-arakan.

Hari berikutnya, keluarga yang berduka menerima kunjungan dari kerabat dan tamu lain yang menyampaikan turut berduka cita. Biasanya berlangsung selama dua hari.

Tamu dan kerabat yang datang lebih dulu mendaftar pada pos penerimaan tamu. Saat itu, tamu juga mendaftarkan hewan atau benda yang dibawanya untuk dicatat panitia. Pendaftaran ini terkait dengan pajak yang harus dibayar yang bagi masyarakat Toraja sudah menjadi salah satu sumber PAD terbesar.

Tamu yang sudah mendaftar lalu masuk ke lokasi Katongkonan secara bergiliran. Para tamu diterima secara resmi oleh keluarga dan dijamu minum kopi, teh, atau pangan. Sesudah dijamu, tamu menuju Lantang masing-masing untuk makan dan istirahat. Selanjutnya, rombongan tamu lainnya akan diterima secara resmi.

Puncak acara adalah mengarak jenazah menuju pemakaman. Semua kerbau yang sudah disepakati dikorbankan harus potong dan dagingnya dibagi-bagikan secara adat sesuai peruntukannya.

APA yang dilakukan dalam pesta Rambu Solo' sesungguhnya hanyalah sebuah simbol. Simbol dari sebuah tradisi yang turun temurun. Sebab, dalam pelaksanaan upacara ini, ada yang lebih penting; ada makna yang terkait erat dengan kepercayaan masyarakat.

Bagi sebagian orang, tradisi ini bisa jadi dinilai sebagai pemborosan. Sebab, demikian besar biaya yang harus dikeluarkan untuk penyelenggaraannya. Bahkan, ada yang sampai tertunda berbulan-bulan untuk mengumpulkan biaya pelaksanaan upacara ini; bahkan yang menyatakan, orang Toraja mencari kekayaan hanya untuk dihabiskan pada pesta kematian.

Pandangan lain menyatakan, sungguh berat acara itu dilaksanakan. Sebab, orang yang kedukaan justru harus mengeluarkan biaya besar untuk pesta. Untuk diketahui, hewan-hewan yang dikorbankan dalam upacara itu, ternyata bukan hanya dari kalangan keluarga yang meninggal, tetapi juga merupakan bantuan dari semua keluarga dan kerabat. Selain itu, hewan yang dikorbankan itu juga dibagi-bagikan, termasuk disumbangkan ke rumah-rumah ibadah. Pesta ini sesungguhnya menjadi simbol dari upaya melestarikan tradisi tolong-menolong dan gotong-royong.

Bagi masyarakat Toraja, berbicara pemakaman bukan hanya berbicara upacara, status, jumlah kerbau yang dipotong, tetapi juga soal malu (siri'). Makanya, upacara Rambu Solo juga terkait dengan tingkat stratifikasi sosial. Dulunya, pesta meriah hanya menjadi milik bangsawan kelas tinggi dalam masyarakat ini. Akan tetapi, sekarang mulai bergeser. Siapa yang kaya, itulah yang pestanya meriah.

Berbagi makanan adalah hal biasa. Olehnya itu, berkunjung ke rumah orang Toraja akan selalu diajak makan dan tidak boleh ditolak. Jika sudah makan dan kenyang, tetap ambil beberapa suap sebagai tanda persaudaraan dan penghormatan.

Menurut hukum adat Toraja, pewaris yang memberi terbanyak pada upacara pemakaman akan menerima bagian terbesar warisan, entah dia perempuan atau laki-laki.

Kepercayaan leluhur (aluk todolo) jiwa yang mati mengendarai jiwa kerbau dan babi yang dikorbankan. Makanya, hewan terbaik dan paling berharga adalah Tedong Bonga. Sebab, dengan bahu yang besar dan tanduk panjang yang kuat, bisa dikendarai bagi yang meninggal melintasi gunung dan lembah menuju alam baka (puya).

Orang Toraja percaya bahwa jiwa dari hewan korban akan mengikuti tuannya yang dikorbankan pada upacara pemakaman. Dipercaya pula, roh dari rumah dan semua milik yang meninggal akan mengikuti pemiliknya. Karenanya, sekalipun seseorang meninggal di tempat lain, keluarga berusaha membawanya kembali ke tempat asal untuk upacara pemakaman. (*)




Tidak ada komentar: